Kompetensi Inti dari Teknik Industri

Teknik Industri (Industrial Engineering, IE)

Seorang adik mahasiswa S1 (IE-er) pernah menanyakan ke saya, sebenarnya apa sih kompetensi yang harus dimiliki seorang IE?
Trus kalo udah lulus kerjanya di mana aja?

Hai, IE-ers; jangan-jangan anda juga punya pertanyaan serupa ya. Kalau IE-ers yang masih semester satu atau dua - saya bilang masih wajar kalau agak-agak binun. Buat yang sudah sophomore ataupun senior - dan masih binun … gawat :)

Jangan-jangan ada mhsw senior [atau alumni ?] yg masih gak bisa mbedain IE dg Manajemen ya? atau IE dengan ilmu Keteknikan yang lain? ada juga yang bilang IE itu ‘ilmunya nanggung’.

Oke .. oke … coba kita lihat bagaimana pendapat saya.
[dan seperti biasa anda tentu boleh sepakat untuk tidak sepakat].

# Apa sih IE itu?
Seperti juga namanya, IE adalah salah satu cabang Ilmu Teknik - jadi anda adalah engineer.

#Oke, trus? kalao itu saya juga tahu
Disiplin ilmu IE dikembangkan, karena dirasakan bahwa masih ada yang kurang dari disiplin ilmu teknik yang lain. Ilmu teknik lain seperti teknik mesin dikembangkan dengan sangat canggih, sangat berguna namun saat diterapkan dalam lingkup industri terasa ada yang kurang.

Karena itu diperlukan cabang ilmu teknik baru: IE untuk melengkapinya

#Kurangnya apa sih. Teknik Mesin kan canggih sekali - lihat tuh MIT
Yup, Teknik Mesin emang canggih, demikian juga teknik yang lain. Cabang Ilmu  teknik (selain IE) dikembangkan berdasarkan domain (=ranah) ilmu pengetahuan.

Sebagai contoh, Mechanical Engineering (ME) sebenarnya agak kurang pas kalo diterjemahkan Teknik Mesin (Engine Engineering? Machine Engineering?), mungkin akan lebih sip kalau disebut Teknik Mekanika.

Tapi anyway, point-nya adalah bahwa ME berada pada domain (ranah) mechanics. Jadi salah satu dasar ilmu teknik Mesin adalah Mechanics (masih inget hukum Newton I, II, III ?, teori mekanika kuantum?, relativitas newton?). Ditambah dengan ilmu yang satu famili (misal: termodinamika dan ilmu material), jadilah Mechanical Engineering menjadi ilmu yang hebat.

Sekali lagi, Cabang Ilmu Teknik seperti ME, EE, CE  dikembangkan berdasarkan domain (=ranah) ilmu pengetahuan. Bahasan dan perkembangan kompetensi dasar dari Engineer-nya juga berada pada sekitar domain ilmu tersebut.

# So, gimana dengan peran IE?
Seperti dikemukakan semula, IE dikembangkan untuk melengkapi ilmu-ilmu teknik lainnya.

Karena ilmu teknik yang lain dikembangkan dengan konsep domain-specific, maka saat diterapkan di industri menjadi ada kekurangannya. Contohnya, saat  mesin-mesin produksi yang sudah didesain dengan sangat canggih oleh ME "diletakkan" di pabrik, maka perlu dipikirkan bagaimana peletakan posisi nya yang paling optimal (ting … kuliah tata letak di IE). Dalam kasus ini, tanggung jawab ME adalah merancang, membuat mesin produksi yang secara individual optimal. IE bertugas merancang dan membuat SISTEM PRODUKSI (gabungan mesin-mesin produksi) yang optimal.

Jadi, peran IE akan menonjol saat kita bicara dalam level sistem industri. IE adalah teknik sistem.

# Lho tapi,… sebuah mesin bubut adalah juga sebuah sistem tho? Kenapa itu menjadi urusannya ME bukan IE?
Good point. Betul, betul.
Kalau kita perhatikan, mesin bubut pun sebuah sistem. Terdiri dari elemen-elemen yang terkait satu dengan yang lain menjadi suatu mekanisme dengan tugas tertentu.

Nanti kita akan bahas, SISTEM seperti apa yang biasanya menjadi MINATnya IE.
Sabar nape?

# Ada gak contoh kasus dari uraian sebelumnya?
Yup.
Sebenarnya kebangkitan ilmu IE dimulai setelah WWII [tahu gak?]. Industri US- amrik (terutama industri otomotif-nya) merasakan bahwa dari timur sono mulai muncul pesaing yang gak bisa diremehin. Siapakah dia? yak Jepang; tepatnya? TOyota. [lihat artikel lain di blog ini yang mendongengkan cerita ini].

Intinya adalah, karena merasa tersaingi, akhirnya US bertanya-tanya "what’s wrong with us? - what’s right with them?"
Akhirnya dilakukan penelitian [yup penelitian, tapi buka skripsi] yang dikomandani oleh MIT. Setelah dilakukan penelitian yang komprehensif selama 5 tahun (atau 8 tahun ya?); didapatkan hasil bahwa:

Gaya / metode / cara orang Jepang memproduksi mobil beda banget dibanding US.

Peneliti dari MIT (Womack dkk) ngasih nama sistem produksi jepang: Lean Production. Hasil penelitian juga sudah dibukukan, sangat menarik: "The Machine that Changed The World". Sila cek di perpus anda. Menurut saya setiap IE-er wajib baca buku ini. [FS aja punya masak blum pernah baca buku ini].

Singkat kata, "Lean production"-nya Jepang telah membuka mata US bahwa MEMPRODUKSI tidak hanya berhubungan dengan MESIN PRODUKSI. Memproduksi berarti harus juga mepertimbangkan FAKTOR MANUSIA (ting .. human factor - ergonomi). Di dalam lingkup produksi, ada buanyak ELEMEN yang harus dipertimbangkan: ada mesin, ada pekerja (yang gak bisa dianggap sebagai robot atau mesin), ada budaya kerja, ada supplier relationship, ada customer voice, ada product design, ada keselamatan kerja, ada limbah industri dan tentu saja bicara analisis biaya.

Well, enough to say: perlu ada orang yang memikirkan semua itu dalam satu kerangka pemikiran SISTEM PRODUKSI –> IE-ers.

# Jadi peran IE?
Di sini peran IE adalah SYSTEM integrator. Tujuan utamanya adalah membuat SINERGI antar elemen dalam sistem tersebut.
IE mengenali dan memahami elemen-elemen tadi. Elemen-elemen tersebut saling terkait, tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya.

Kadang, jika kita ingin meningkatkan kinerja salah satu elemen tersebut, elemen yang lain justru akan turun kinerjanya.
Contoh: kalau kita ingin mengurangi backlog dengan inventory lebih banyak, maka biaya inventory akan naik (ting … PPIC).

Karenanya IE dipersenjatai dengan, salah satunya,  teknik optimasi (ting… OR1, OR2) dan teori keputusan.

#Oke, jadi kalau ilmu teknik yang lain adalah domain-specific, lalu IE bagaimana?

Inilah bedanya IE dengan ilmu teknik yang lain. IE tidaklah domain-specific tapi methodology-driven.

# What ??
Methodology-driven artinya IE-ers akan dibekali dengan seperangkat metode analisis sebagai senjata andalannya. Alat analisis tersebut dapat digunakan untuk memecahkan masalah pada berbagai macam domain, tergantung di mana IE-ers bekerja.

Tujuannya adalah: sinergi, atau optimasi, atau improvement dari suatu SYSTEM.

Jadi kalo ME akan selalu berada di domain mechanics, IE bisa ditugasi untuk mendesain, membuat, menganalisis SISTEM di domain apapun, asal …

# ternyata ada asalnya juga …
asalkan sistemnya masuk dalam kategori SOCIO-technical system.

# What ????
SOCIO-technical system berarti suatu sistem yang secara dominan memiliki dua elemen utama: SOCIO (manusia) dan TECHNICAL (unsur teknologi).
disitulah IE-ers bekerja.

# Jadi domainnya sangat luas dong untuk IE?
Domain bukanlah isu utama untuk IE. Asalkan sistemnya SOCIO-TECHNICAL, maka IE oke-oke aja.Artinya metodologi-nya bisa diaplikasikan Jadi sekali lagi methodology-driven bukan domain-specific.

#Contoh SOCIO-technical system?
Coba tebak mana yang termasuk SOCIO-technical system ??
a. sistem manufaktur
b. desain chips komputer
c. transportasi masal
d. bandar udara
e. taman nasional
f. sistem pertahanan

jawab:
a –> jelas iya, no doubt
b –> bukan, unsur SOCIO tidak ada. Kalau pabrik Chips komputer baru iya. Pabrik Chips potato juga iya.
c –> iya, ada teknologinya (MRT, sistem sinyal, ada jalan layang, jembatan, jalan tol), ada CUSTOMER, ada pemerintah, dsb
d –> iya
e –> bukan, lebih ke natural environment; bukan buatan manusia.
f –> iyes, ada tentara kita, ada tentara musuh, ada sistem radar, ada sistem navigasi, ada pesawat tempur, sistem persenjataan arhanud, dll

# Kenapa IE di Indonesia cenderung ke arah sistem manufaktur?
Karena sistem manufaktur adalah sistem yang paling konkret, bisa dilihat, bisa diraba, sehingga memudahkan mahasiswa untuk mempelajarinya.

Bayangkan kalo kita bicara DPMO (ting… six sigma) pada produk manufaktur, misal: handphone. Kita akan jauh lebih mudah membayangkannya dibandingkan misal DPMO untuk sistem radar pertahanan udara.

Di samping itu, dengan menggunakan manufaktur sebagai case-studynya, maka IE bisa melakukan prinsip economies of scale dan economies of scope (ting … ekonomi teknik).

Tapi, itu tidak berarti  bahwa metodologi IE tidak bisa digunakan di  domain yang lain.

#Jadi setelah kerja, tidak harus di manufaktur?
Saya katakan:
1. bidang manufaktur oke, tapi bidang lain juga sangat butuh kompetensi dari IE-ers.
2. trend bisnis global menunjukkan konvergensi (melebur, menyatunya) antara manufaktur dan jasa. Fortune misalnya, dalam surveynya, sudah tidak lagi membedakan antara manufaktur dan service karena memang semakin susah dibedakan.
contoh:
a. Microsoft - manufaktur atau service?
b. kopi - produk atau service?

kopi dibeli perkarung jelas produk, tepatnya komoditi
kopi di dalam sachect  masih produk
kopi di starbuck ? kopi di angkringan? di Omah dhuwur?

Saya katakan, IE-ers bisa bekerja di SOCIO-Technical systems yang mana saja.
Bisa di manufaktur, di sistem pertahanan, di logistik, di BI, di konsultan seperti Accenture, McKinsey, PwC, AC Nielsen, di LSM seperti Green Peace, wira usaha - technopreuneur, … etc you name it !!

Yang penting adalah jangan lupakan engineering methodology yang sudah anda pelajari dulu.

# Kompetensi dasar IE?
Jadi, dari uraian di atas,jelas terlihat karena IE-ers mengurusi SOCIO-TECHNICAL SYSTEMS, maka IE-ers WAJIB menguasai:

a. Human Factors - ergonomi fisik, kognitif, antropologi, dll
b. Operations Research - optimasi, teori keputusan, dll
c. Rekayasa Produksi - manajemen proyek, sistem produksi, kualitas, dll

d. Berpikir Sistem - kemampuan untuk melihat sistem secara holistik

# Super kompetensi dari IE?
Hal terpenting yang harus dikuasai oleh IE-ers adalah: kemampuan Belajar untuk Belajar (learning how to learn).
Artinya, setiap saat setiap waktu harus selalu MAU dan MAMPU belajar hal-hal yang baru, berpikiran terbuka. Ilmu IE berkembang dengan sangat cepat. Anda gak mau jadi dinosaurus kan?

IE-ers juga harus bisa working smart and working together.

# ada kata penutup?
IE-ers must be proud of becoming engineers.
Integritas, profesionalisme dan kompetensi - dan doa jadi kunci sukses

TI-ers Ganbatte !!
(c) b oe d

13 Responses to “Kompetensi Inti dari Teknik Industri”

  1. Tegoeh Says:

    Butul… butul…
    Yang membingungkan justu Teknik Industri di perguruan tinggi di Indonesia (termasuk ITB, Boed…)
    TI di Indonesia lebih ke ‘teknik manajemen dan akuntansi’, bukan seperti Industrial Engineering di universitas luar… Ya gak Boed?

  2. Budi Says:

    Halo Mas Teguh,
    Dengan didirikannya SBM, TI ITB sepertinya sudah memfokuskan kembali pada domain intinya.

    Secara umum, banyak program TI di PT di Indonesia memang masih rancu.

    Salah satu benchamark yang bisa kita gunakan adalah MIT. MIT memang tidak memiliki jurusan seperti TI, karena ditakutkan adanya kompetisi langsung dengan Sloan School of Management-nya. Akhirnya, sebagai kompromi, dibuatlah sebuah divisi -ESD, Engineering Systems Division-, http://www.ESD.mit.edu. ESD bisa dibangun setelah perjuangan yang panjang.

    Benchmark yang lain tentunya adalah adalah Georgia Institute of Technology .
    Jurusan TI nomer satu di USA selama 17x dalam 18 tahun terakhir.
    ck…ck…ck…

  3. Abi Says:

    konnichiwa Budi sensei…
    ii burogu desu ne…

    bahasannya bagus sekali pak tentang IE… yup kurang lebih memang seperti itu…

    memang, banyak adik mahasiswa yang masih bingung dengan pengertian IE sendiri, terutama yang baru-baru masuk… saya sendiri juga sama kok… semester 1, saya berfikir bahwa di Teknik Industri itu akan belajar banyak tentang manajemen, selain ilmu teknik lain tentunya… but… dan bayangan sebagian besar mahasiswa baru adalah seperti itu… termasuk anak-anak SMA yang sekarang berjuang di SPMB untuk mendapatkan kursi di jurusan TI. mengapa saya dan mereka berfikiran demikian… karena kurangnya informasi tentang keilmuan TI itu sendiri… dan kalaupun ada yang menginformasikan TI itu seperti apa, masih banyak yang salah kaprah…

    saya sendiri baru ngeh tentang TI itu baru sekitar semester 4… setelah ikut kuliah Pak Arif Wibisono… sebelumnya… ngambang, ga tau apa TI itu… karena yang dipelajari aneh-aneh dan iro-iro… (belajar OTK juga loh…)dan pengertian tentang TI masih sangat sedikit diberikan oleh bapak-bapak dosen kita…

  4. Budi Says:

    Tentunya apa yang saya sampaikan di atas bukan ‘yang paling benar’. Tapi setidaknya bisa memicu diskusi.

    Memang akhirnya kita nanti harus mulai memancing masyarakat umum dan juga akademisi untuk mulai memikirkan masa depan disiplin ilmu TI di Indonesia.

    Tanpa diskusi, disiplin ilmu TI di Indonesia tidak akan berkembang. Saya sendiri cukup prihatin melihat sebagian akademisi TI mereduksi disiplin ilmu TI = optimasi.

    Kalau kita merujuk ke luar negeri, Ilmu TI telah jauh berkembang dengan memasukkan domain ’service’ di dalamnya.

    Jika kita lihat dari sudut pandang filosofi, sebenarnya TI bisa dikatakan berada di persilangan dua arus utama ilmu pengetahuan:
    a. Scientific - di TI diwakili oleh hard OR
    b. Humanistic - di TI diwakili oleh Human Factor (terutama yang cognitive)

    Sebagian sekolah TI cenderung condong ke scientific, yang lainnya ke humanistic.

  5. Aisyah Says:

    Assalamu’alaikum…

    Nice for reading…
    Memang idealnya IE’ers bisa masuk ke banyak bidang kerja, asal open minded mau banyak belajar hal yang baru. Naaah tapi, fenomena yang kebanyakan muncul, justru IE’ers dianggap lemah akan sisi technical (engineering), saya sendiri menyadari hal itu. Tapi sejujurnya sih, kita bisa asal kita mau belajar hal yang baru…..

    Gudlak pak Budi, tambah lagi artikel ttg IE nya dunkz….

  6. Budi Says:

    Setuju Neng Aisy :)
    #Kelemahan di bidang engineering mungkin disebabkan karena kesalahpahaman mahasiswa melihat “TI” - bahkan sejak saat mereka masih SMA.

    Seperti yang dikatakan Mas Titis ‘Abi’, sebagian (calon) mahasiswa TI mengidentikkan TI = manajemen. Sehingga saat masuk TI, mereka ‘kaget’.

    Ternyata di TI diajarkan ilmu2 engineering seperti proses produksi, maintenance, power engineering, ngelas, mbubut, nggambar, dll.

    Tentu dari sisi dosen juga ada yang harus dikritisi. Sebagian dosen mengajarkan mata kuliah engineering-nya tanpa memberi penjelasan ‘big picture’-nya seperti apa. Contoh, mengapa anak TI harus belajar m.k. X? apa hubungannya dengan bidang TI dst.

    Dari dua hal tsb (salah ekpektasi dari sisi mahasiswa dan cara mengajar dosen yang kurang menarik), akhirnya sebagian mahasiswa menganggap kuliah engineeringnya TIDAK PENTING.

    Anyway, neng Aisy sudah menyampaikan satu satu point yang sangat penting:
    IErs harus punya keahlian untuk “learning how to learn”. Karena ilmu IE berkambang sangat-sangat cepat.

  7. Wieky Says:

    Wah….inspiratif sekali pak..
    menurut saya, TI di Indonesia perlu dikembangkan oleh dosen yg praktisi…
    Biasanya kalau cuma dosen doang, dia cuma baca2 buku, ikut seminar, dan sedikit pengalaman saat bikin disertasi….
    Kalau “dosen doang” yg ngajar, mahasiswa suka diajak menghayal… seperti 3 org buta bicara ttg gajah..(tau kan maksudnya..??)

    Jika dosen yg praktisi, kemungkinan bisa lebih sistem oriented….

    Gmn tu pak, kira2 bisa gak ya..??? masalahnya sekarang ada lagi tuh UU dosen dan guru yg melarang dosen dan guru punya pekerjaan lain…

    Aneh…benar2 gak sistemik pola pikirnya tuh…Gak IE banget…. :-)
    Salut buat bapak…
    Semoga IE Indonesia semakin maju…

  8. Budi Says:

    Halo Mas Wieky.
    Kebetulan saya sebelum nyemplung jadi dosen juga praktisi. Sampai sekarang saya juga masih, makanya saya sebut diri saya “engineer” forever.
    :-)

  9. PeaNanD Says:

    wah…wah..
    banyak “ting” nya yang artinya TI itu luas bgt ya pak??

    jadi makin pede nih jadi anak TI, sistem bgt!!

    TI UGM = BETTER!!:)
    chaiyoo!!!

  10. Budi Says:

    Halo Dit,

    Jargonnya kok agak2 gimana gitu ye. Apa kesannya nggak agak tinggi hati?

  11. Tiwi Says:

    saya mahasiswi semester 2 TI univ.Bina Nusantara,(univ.swasta di jakarta)

    saya juga msih binun ma TI, terutama untuk profesi kedepan nya???

    saya selalu menganggap kelebihan TI ada pada system…
    dan saya beranggapan kelebihan TI dimana ada system maka IE-ers dapat bekerja didalam nya.
    bener ga pak???
    trims

  12. Tiwi Says:

    saya mahasiswi semester 2 TI univ.Bina Nusantara,(univ.swasta di jakarta)

    saya juga msih binun ma TI, terutama untuk profesi kedepan nya???

    saya selalu menganggap kelebihan TI ada pada system…
    dan saya beranggapan kelebihan TI dimana ada system maka IE-ers dapat bekerja didalam nya.
    bener ga pak???
    trims

  13. Budi Says:

    Kira-kira memang begitu Tiwi.
    Betul sekali :-)

Leave a Reply