Efektivitas-efisiensi & Teknik Industri
Efektivitas, Efisiensi dan Teknik Industri
Waktu saya membaca judul skripsi mahasiswa TI, kadang kening saya berkerut [bingung atau nggak faham nih ya he he ?]
Contohnya kira-kira adalah:
- Aplikasi six sigma di perusahaan *** untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas
- Overall Equipment Effectiveness sebagai indikator peningkatan efektifitas dan efisiensi mesin di perusahaan %%%
- Pemodelan dan Simulasi Sistem Dinamik di Rantai Pasok untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi
Sounds familiar?
So, adakah masalah dengan judul-judul tersebut?
Nggak juga, everything is oke, so far so good
Tetapi …
Istilah “efektivitas dan efisiensi” atau ada juga yang menerjemahkannya sebagai “sangkil dan mangkus” sepertinya sering kehilangan makna. Seringnya istilah-istilah tersebut hanya menjadi ‘bumbu’ atau ‘jargon’ atau ‘retorika’ tanpa makna. Agar kelihatan canggih, ilmiah, keren, bombastis, dipakailah istilah tersebut. Sekadar retorika.
Berkali-kali saya menemukan sendiri kasus (terutama saat sidang sarjana), mahasiswa menggunakan kedua istilah itu tanpa benar-benar memahaminya.
Padahal …
Sebagai seorang insinyur, kita dituntut untuk selalu berpikir akurat dan bertanggung jawab. Coba kita bayangkan ilustrasi berikut:
Anda sudah lulus dan menjadi pimpinan proyek. Di kontrak proyek anda, dituliskan bahwa tujuan proyek adalah:
“membangun sebuah pabrik Ammonia berkapasitas ### MMBtu yang dapat beroperasi dengan efektif dan efisien”
Anda terima dengan senang hati. Toh skripsi saya dulu juga pakai istilah tersebut. Toh saya lulus juga. Jika project objective anda seperti itu dan anda menerimanya dengan senang hati, sudah hampir dipastikan riwayat profesi anda sebagai young project manager sudah selesai, wassalam.
Mengapa?
Karena tujuan proyek anda sangat tidak jelas dan multi-interpretasi. Akan sangat mudah bagi klien anda, atau project sponsor anda untuk melakukan pemuluran cakupan proyek (scope creeping). Istilah “efektif dan efisien” di kontrak anda itulah masalahnya. Istilah tersebut tidak pas untuk digunakan karena sangat kabur dan multi tafsir (jadi inget kan
Apakah itu berarti kita tidak boleh menggunakan istilah efektif dan efisien?
Tentu boleh, asalkan kita memahami dengan tepat dan menggunakannya dengan bertanggung jawab pula.
Efektivitas: do the right things, melakukan hal-hal yang tepat
Efisiensi: do things right, melakukan hal-hal dengan tepat
Jadi sebelum kita bicara efisiensi, kita harus yakin bahwa kita efektif.
Contoh
Ilustrasi fiktif berikut mudah-mudahan bisa menambah pemahaman kita.
Anda adalah komandan pasukan pengamanan presiden. Pagi buta anda mendapat SMS dari Sekretariat Negara: “harap siapkan pengamanan di Istana, pagi ini jam 11:00 Presiden akan mengadakan pertemuan dengan mahasiswa, 500 orang”. [Wuih, 500 orang… mahasiswa lagi pikir anda].
Mendapat berita tersebut, otomatis anda langsung bangun. Seusai protap, menyiapkan pasukan, briefing, sterilisasi, membangun perimeter di sekeliling Istana Negara Jakarta. Anda cek dan ricek, oke semua. Anda tidak ingin kecolongan. Semuanya telah dilakukan dengan tepat. Anda telah sangat efisien menjalankan tugas.
Pukul 8 pagi, anda dikontak kembali oleh SekNeg. Kali ini melalui telepon. “Saudara Danpaspampres, bagaimana anda ini kok tidak menjalankan tugas. Saya kan
Anda jadi heran. Balas anda “lha bagaimana tho pak SekNeg, saya SUDAH menjalankan tugas. Pasukan sudah stand-by dari jam enam pagi. Protap protokoler sudah digelar”
Kedua pihak bingung, sampai kemudian istri pak Sekneg menyela “Pak, habis mendampingi Presiden wawancara dengan mahasiswa, nanti langsung antar saya ke MALIOBORO naik becak aja ya??”
Got the point??
Komandan tadi telah sangat efisien. Beliau telah menjalankan hal dengan sangat baik. Sayangnya ‘hal’ yang dia lakukan tidak tepat sasaran. Bukan sesuatu yang seharusnya dia lakukan. Beliau tidak efektif.
He has done things right, but unfortunately they are not the right things.
Karenanya, saya sangat cocok dengan jargon berikut ini:
“It is so useless to do something extremely well but not necessary”
Efektif, Efisien, dan Teknik Industri
So, bagaimana hubungannya dengan IE-ers?
Terkait dengan pekerjaannya, akhirnya IE-ers dituntut berpikir kritis sebelum melakukan sesuatu.
Saat bos anda menyuruh anda mengerjakan sesuatu. Anda harus berpikir sejenak untuk melihat, “benarkah ini solusi terbaik dari masalah itu?” – efektivitas. Baru setelah anda yakin bahwa ini solusinya, lakukan sebaik-baiknya – efisien.
Saat anda mendapat keluhan dari pelanggan, anda harus yakin terlebih dahulu bahwa apa yang dikeluhkan benar-benar merupakan akar masalah pelanggan tersebut? Perlu diingat bahwa kadang pelanggan memang punya masalah tetapi tidak bisa mengartikulasikan masalah tersebut dengan baik.
Anda harus yakin bahwa anda efektif sebelum akhirnya efisien.
Kuis
Akhirnya tulisan ini ditutup dengan kuis kecil. Saya ambil dan modifikasi kasus ini dari sebuah buku yang pernah saya baca.
Silahkan berpartisipasi dengan mengisi komentar di bawah. Semua data yang tidak ada tapi diperlukan (contoh: jumlah pengguna, waktu tunggu, waktu antar kedatangan, kapasitas lift, kecepatan lift, jumlah lift, demografi, temperatur lift, dsb) silahkan diasumsikan sendiri. Anda bisa menggunakan pendekatan IE yang manapun. Cukup sampaikan garis besar pemecahan masalahnya, tidak perlu detail.
Anda bekerja di sebuah perusahaan MNC besar, memiliki gedung sendiri yang berlantai 21. Lantai 1-13 disewakan, sementara lantai 14 ke atas digunakan sendiri. Gedung tersebut masih baru, lantai 1 adalah lantai lobi di mana petugas keamanan dan resepsionis berada.
Manajemen telah mendengar keluhan berkali-kali dari pelanggan (penyewa, karyawan, tamu) bahwa lift yang disediakan masih kurang. Pengguna harus menunggu lama untuk memanfaatkan lift, terutama saat jam masuk kantor. Di jam-jam lain termasuk jam pulang kantor, lift cukup nyaman digunakan. Ada
Anda sebagai IE, ditugasi oleh atasan anda untuk mengkaji masalah ini dan memberikan usulan solusi. Dengan menggunakan ilmu ke IE-an anda, berikan saran anda !!
(c) b oe d

Sebelumnya salam kenal ya Pak Budi,,,,Tulisan yang sangat bagus,edukatif dan menggugah ,,sungguh suatu ilmu yang tdk pernah sata peroleh ketika kuliah dulu,,,sangat membuka cakrwala pemikiran ke-Teknik Industrian saya,,,oiya Saya Reni Wulansari Lulusan Teknik Industri ITS,,baru saja lulus Bulan Maret Lalu & sekarang sedang menunggu panggilan kerja,doakan ya pak,,,Alhamdulillah Lulus dalam waktu 7 semester dgn predikat Cumlaude....
OK,sambil mengisi waktu saya akan memberikan saran untuk permasalan diatas...
Menurut saya, untuk menyelesaikan permasalahan di atas bisa dengan menggunakan soft OR atau HARD OR...Terlebih dahulu pada fase awal dilakukan penelusuran akar permasalahan dengan menggunakan Cause –Effect Diagram, apakah yang bermasalah MAN, MACHINE, MATERIAL, MONEY, atau Environment nya. Setelah diagnosa barulah kita bisa menyelesaikan permasalahan tersebut baik dengan menggunakan metode Soft OR atau Hard OR.
Pendekatan Hard OR
(1). Penyelesaian dengan menggunakan HARD OR bisa dengan menggunakan Model Antrian M/M/k, M/M/1/, atau model antrian lainnya tergantung dari jenis distribusi interarrival time dan service time nya, kemudian kita lakukan formulasi untuk menghitung jumlah lift yang optimal berdasarkan trade-off antara Waiting Cost (Biaya yang diderita Customer akibat antrian Lift) dengan Server Cost (Biaya yang dibutuhkan untuk pengadaan Lift)....Pendekatan ini dapat dilakukan apabila komponen2 spt Waiting Cost & Server Cost diketahui...
Pendekatan Soft OR
Baru lah tahap berikutnya setelah diketahui jumlah lift yang optimal untuk jumlah customer saat ini, maka barulah merencanakan untuk membuat lift baru sesuai jumlah optimalnya,,,namun perlu diperhatikan mungkin disini design dari lift/elevaror itu sendiri,,,ada beberapa alternatif yang bisa ditawarkan disini tentu saja nantinya solusi yang terbaik adalah memilih alternatif yang total cost nya minimum,,,sehingga nantinya diperoleh solusi yang EFEKTIF & EFISIEN,,,,,
1. Mendesain x lift sehingga nantinya sesuai dengan perhitungan lift yang optimal,,, dimana untuk tiap lift nya didesain untuk mengakomodasi kepentingan yang sama ,,,sehingga nantinya solusi nya EFEKTIF. Misal jumlah lift saat ini ada 4,berdasarkan jumlah perhitungan ternyata jumlah liftnya 6. Maka solusi yang dapat ditawarkan misalkan 2 lift tambahan itu disediakan untuk lantai-lantai tertentu yang sering dikunjunhi custimer,,,,sehingga perlu dilakuakan survey juga sebelumnya ...misal untuk lantaiu6,8,10,12,14 sangat padat jumlah customernya,,,maka 2 lift tambahan tsb hanya ditujukan pada lantai tersebut..dengan menerapkan sistem sensor sehingga akan mempercepat waktu tunggu,,,,yang menangkap sinyal titik kepadatan customer dilantai-lantai tertentu....untuk mencoba kombinasi2 tersebut dapat dilakukan melaului skenario2 perbaikan di simulasi sistem Dinamik karena pada permasalahan tsb terdapat hubungan kausalitas, maka permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan enggunakan simulasi Sistem Dinamik.
2. Disamping itu perlu dipertimbangkan desain lift yang ekonomis seperti hasil rancangan rekan2 saya di PKM (Pekan Kreativitas Mahasiswa) yaitu dengan membuat terobosan ”HIDROPOWER ELEVATOR”, sehingga tenaga penggeraknya tidak lagi listrik tapi mengguanakan prinsip pompa air. Jelas dengan cara ini akan terjadi penghematan dalam investasi lift baru....disamping itu HEMAT ENERGI pula,,he3x
ya..mungkin solusi itu menurut pandangan dan pemikiran saya saat ini. Klo bole tau buku bapak itu buku apa ya ?? apa solusi yang ditawarkan pd buku itu,,,, jadi penasaran ....
Mohon ditulis solusi dan sumber buku nya ya di BLOG bapak,,saya tunggu....Oiya sekalian deh satya jg mo tanya2 tentang kompetensi lulusan Tekniik Industri di dunia kerja mengingat saya Fresh Graduate yang sedang mencari kerja,,,begini pak, saat ini saya sedang di puncak kebimbangan saya diterima di 2 BUMN sekaligus satunya adalah di BANK dan perusahaan penerbangan (saya tdk perlu menyebutkan namanya, tidak etis rasanya). di bank saya berada pada posisi MT (management trainee) yang dipersiapkan utk menjadi calon pimpinan cabang bank tsb....sedangkan satunya perusahaan penerbangan saya ditawari posisi sbg PLANER di divisi perawatan pesawat terbang..menurut bapak sebgi Industrial Engineers,,profesi mana yang sebaiknya saya pilih ???oiya kira kompetensi TEKNIk industri di dunia perbankan dan industri perawatan pesawat terbang seperti apa ya pak??/ Bs minta tolong dipostingkan seperti poting2 terdahulu...maaf ya pak Reni banyak bertanya,, coz saya Rasa Pak Budi emang pakarnya soal ini,,so ga apa salahnya saya banyak bertanya kan bapk ahlinya...Pepatah mengatakan ” Malu Bertanya, sesat di Jalan” makanya sebelumsaya salah jalan dalam menentukan karir tidak ada salahnya saya meminta nasihat dan pencerahan kepada dosen seperti Bpk..Terima Ksih atas waktu dan dedikasinya,,,,semoga Tuhan Membalas..Amien
Best Regards
Reni Wulansari , ST
Posted by: Reni | July 27, 2007 07:59 AM
Halo Ren,
makasih buat responnya.
Cumlaude + kuliah cepet = OKE ya. Keep up the good work.
# mengenai kuis
He he kita tunggu masukan temen2 yang lain juga deh. Komentar saya mengenai jawaban Ren:
"you have demonstrated a sound knowledge on industrial engineering field, especially OR"
Perlu diinget juga, di dunia industri, kita akan sering menemui kondisi di mana "the best answer" tidak ada. Mungkin akan kita temukan beberapa alternatif jawaban yang sama-sama "acceptable" untuk satu solusi.
That's the real world.
#mengenai pilihan karier
Ren sungguh beruntung karena diberikan kemudahan oleh Allah untuk "memilih". Tidak banyak lho di antara kita yang mempunyai kesempatan untuk memilih. Sebagian di antara kita bekerja karena tidak ada pilihan lain.
Kedua alternatif menurut saya menarik. MT menjadi menarik karena membukakan jalan untuk kita di masa depan. MT biasanya didesain perusahaan untuk memupuk pemimpin perusahaan di masa depan. Program biasanya dirancang dengan sangat teliti, rigorous tapi juga highly challenging & demanding. Biasanya akan ada regular progress report.
Akhirnya semua kembali ke Ren. Mungkin bisa dibantu dg menjawab pertanyaan berikut:
a. what is my passion?
b. what is my competence?
c. what kind of contribution to the community that I would like to do?
-- boed
Posted by: Budi | August 2, 2007 12:08 AM
halo pak Boed....
menurut saya tidak semua pekerjaan harus dikerjakan pd tempat yg sama...
hi-tech dong...hi-tech..
usulan saya adalah:
1.sekarang kan sdh ada komputer plus internet...gunakan itu..Mulailah membiasakan diri dengan virtual office...Bayangkan, berapa efisiensi yang akan dihasilkan...>>>>>waktu mandi, waktu sarapan, waktu berpakaian, waktu pake lipstik, waktu mutar mobil keluar garasi, waktu di jalan...pokoknya segala macam waktu bisa dihemat...(time waste) Kemudian biaya...biaya parfum, minyak rambut, semir sepatu, minyak mobil, biaya tol, pak ogah, pengamen, deterjen buat nyuci baju kantor atau blazer, biaya sewa gedung, biaya listrik, AC, komputer di kantor, biaya makan di kafe kantor, banyak deh....(money waste)
Bayangkan juga berapa kemacetan yg akan berkurang di jalan, polusi asap kendaraan, polusi bau keringat, dll sebagainya....
Kemudian berapa kalori yg dihemat jika kita tidak pergi ke kantor..(mohon bedakan dg kalori ketika olah raga, kalau ke kantor kalori ilang karena stress..hehhe..) Kalori ketika nyetir, jalan terburu2 takut terlambat, kalori waktu macet..panik.. (energy waste)
Kemudian brp waktu bersama keluarga yg harus hilang, banyak kan anak2 yg gak dekat sm ortunya...lebih dekat dengan pembantu....soalnya kapan ketemu anak, pergi subuh, plg malam, anak dah tidur..(familyhood waste)
Selain itu dapat mengurangi peluang bertemu "yang lain"..banyak kan suami2 atau istri2 yg ketemu someone else di kantor.....hm....silahkan cek di kantor anda...tanya teman...sahabat...atau diri anda sendiri....
dan banyak waste lain2....
2.budaya perusahaan kan tdk mesti kaku...ciptakan budaya kerja yg baru...gak semua harus masuk jam 7 kan...???hehehe
3.ciptakan budaya kerja yg sehat....misalnya naik dan turun tangga...selain membuat badan segar dan stamina meningkat...setelah terbiasa akan menjadi pekerja yang tangguh dan penuh energi..akibatnya produktivitas akan meningkat.. kalau tidak percaya silahkan kalau ada mahasiswa yg ingin melakukan penelitian utk S1, S2 atau S3 silahkan....:-) kira2 judulnya gini: "Pengaruh naik dan turun tangga terhadap produktivitas karyawan yang bekerja di gedung berlantai sekian..."
saya rasa itu saja utk sementara pak Boed....tetaplah berpikir sistem dan kreatif..Salut atas tulisan pak Boed... hidup TI..!!!
Posted by: Wieky | August 15, 2007 07:46 PM
Mas Wieky,
Ide yang segar! Dari sudut pandang yang sangat tidak biasa - out-of-the-box.
PWC dan beberapa perusahaan sejenis sudah menerapkannya. Saya juga pernah membaca di sebuah majalah bahwa trend virtual office mulai ramai di dunia barat sana.
See?
Dari satu studi kasus, bisa dilihat dari berbagai perspektif dan bisa muncul beragam alternatif solusi.
Ayo, ada ide lagi dari IE-ers lain?
Posted by: Budi | August 16, 2007 06:57 AM
Saya Resha Kusuma Atmaja, mahasiswa TI UGM semester 8
Ini post yang saya tunggu-tunggu sebenernya.. ^_^ saya sedang mengerjakan tugas akhir dan sedang memperkuat statement saya tentang efektif dan efisien..
yang saya simpulkan dari blog pak Boed "EFEKTIF BELUM TENTU EFISIEN TETAPI EFISIEN SUDAH TENTU EFEKTIF" apakah penyimpulan saya benar pak? dilihat dari definisi yang ada diaatas.. Dan Penyimpulan kritis saya, TIDAK ADA PEKERJAAN YANG DILAKUKAN BENAR-BENAR EFISIEN 100%, karena pasti tentu saja ada perbaikan-perbaikan sebilamana manusia terus berpikir ke dapan, maju dan melihat chance dari lingkungan sekitarnya(kaizen for continous improvement)
Efektif berkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai, dan efisien cara menempuh pekerjaan tersebut..
FOR THE QUIZ:
I've got KISS. What's KISS??
KISS ( Keep It Simple Solution IN YOUR MIND),
yaitu selalu mencari solusi yang sederhana, sehingga bahkan semua orang sekalipun dapat melakukannya. Menyusun solusi yang paling sederhana dan memungkinkan untuk memecahkan masalah yang ada. Maka dari itu, kita harus belajar untuk fokus pada solusi daripada pada berfokus pada masalah
Satu pakar menyarankan agar menambah jumlah lift. Tentu, dengan bertambahnya lift, waktu tunggu jadi berkurang. Dan meminta pemilik untuk mengganti lift yang lebih cepat, dengan asumsi, semakin cepat orang terlayani. Kedua saran tadi tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Tetapi, with KISS hanya menyarankan satu hal, "Inti dari keluhan pekerja anda adalah mereka merasa lama menunggu". Pakar tadi hanya menyarankan untuk menginvestasikan kaca cermin di depan lift, agar pekerja teralihkan perhatiannya dari pekerjaan "menunggu" dan merasa "tidak menunggu lift"
^_^ simple but usefull i think
MY QUESTION:
Pak Boed, saya ingin minta pendapat bapak.. SOP (Standard Operating Procedure) yang mana SOP dibuat untuk pekerja dalam melakukan pekerjaan. Apakah saya bisa bilang SOP merupakan alat untuk mencapai efektif? tetapi pendapat saya SOP belum tentu efisien.. SOP adalah alat untuk mencapai tujuan yang dikehendaki dengan urutan- urutan pekerjaan(doing the right things = efektif), dengan adanya SOP berarti pekerjaan akan dilakukan secara efektif untuk mencapai tujuan. Menurut Pak Boed bagaimana?Thx Pak Boed
Best regards,
Resha Kusuma Atmaja
NB: Doakan LULUS pak :D, lagi nunggu ACC Pak Wasiz sama Pak Titis ^_^
Posted by: resha | August 22, 2007 07:24 PM
Halo Za, gmana bisnis Yogurtnya? Kok kalo saya pas joging di boulevard gak pernah liat?
# Jawaban Kuisz
Konsep Kiss nya menarik sekali. Kayaknya Reza bisa melihat permalasahan dari sudut pandang yg lain lagi. Pengetahuan yg dipakai tetep TI, tapi bukan OR / optimasi.
Jawaban Reza masuk ke kategori HUMAN FACTOR - cognitive ergonomi. Great !!
Cuman kalo satu hal Za. Kalo saya lebih setuju jika IEers fokusnya ke mengklarifikasi pada masalah- terutama akar masalah. Solusi adalah langkah berikutnya setelah akar masalah benar-benar difahami.
Coba kalo dokter gigi buru-buru fokus pada solusi, mungkin tiap minggu dia harus cabut gigi pasiennya. Kalo dia bisa mencari masalahnya maka dia akan memberi saran supaya akar masalah dipecahkan. Mungkin sikat gigi teratur habis makan yogurt solusinya.
Wishing all the best. Moga2 cepet lulus Za. Trus kembangin bisnismu biar bisa ngalahin McD.
Ttg SOP, kita bahas lain kali ya.
wassalam
b oe d
Posted by: Budi | August 24, 2007 07:42 AM
Halo Pak Budi, Bagaimana kabarnya?
Wah saya salut dengan Bapak, karena Bapak selain wawasannya luas juga mau sharing pengalaman dan pengetahuan kepada kami.. tetap pertahankan pak ya..
kebetulan alhamdulilah saya sudah lulus kemarin, pada awalnya saya sangat bahagia namun ternyata pada saat ini lah kehidupan sebenarnya baru dimulai, saya merasa harus bisa menentukan pilihan saya setelah ini, karena sesuai dengan pendapat Bapak bahwa pilihan pekerjaan harus yang sesuai dengan interest kita, namun hal itu sering tidak terjadi pada setiap fresh graduated, sehingga terjadi keterpaksaan untuk bekerja. Untuk itu saya harus berfikir dengan matang sebelum saya melangkah.
Pertimbangan lain juga adalah saya ingin melanjutkan kuliah S2. Namun saya bingung apakah bekerja dahulu baru kuliah atau kuliah dahulu baru bekerja.
Mohon tanggapan dan saran Bapak mengenai what i gonna to do?
Jawaban Kuis:
Kasus yang Bapak berikan sangat menarik, sederhana tetapi membutuhkan solusi yang efektif. Saya akan mencoba untuk menjawabnya.
Sebelum saya memberikan solusi maka saya melakukan analisis root cause untuk mengetahui akar permasalahan. Hasil analisis menunjukkan bahwa akar permasalahan adalah:
1. Jadwal pengguna lift yang padat ketika jam masuk kantor
2. Kapasitas lift yang kurang
3. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan, dikarenakan antri dalam menggunakan lift maka dibutuhkan waktu yang lebih untuk memindahkan semua pegguna sampai tujuan
Menurut saya, kasus ini dapat dianalogikan dengan penjadwalan produksi.
Saya ber asumsi "jam-jam lain" yang dinyatakan penggunaan lift sangat nyaman adalah jam-jam selain masuk kantor, misalkan jam masuk kantor 07.00-08.00 (karena tidak ada tambahan keterangan jam-jam lain)
Untuk itu, yang dianalisis hanya pada saat kondisi masuk kantor (07.00-08.00)
kondisi ini dapat saya analogikan seperti penjadwalan produksi yang tidak tepat jadwal karena kurangnya fasilitas untuk perpindahan seperti conveyor akibat jumlah produksi yang meningkat
Ada beberapa hal yang akan dilakukan:
1. Pertama kali yang dilihat adalah berapa kapasitas lift (misalkan 11 orang)
2. Lalu berapa waktu perpindahan lift dari lantai 1 ke lantai berikutnya sampai lantai 21 dan kembali ke lantai 1 (tentukan kelonggaran yang mencakup pengguna masuk dan keluar lift)
3. Berapa banyak pengguna tetap yang menggunakan lift (penyewa dan karyawan)setiap hari kerja
4. Berapa banyak tamu yang menggunakan lift (tentukan dengan menggunakan peramalan berdasarkan historis data dan perkiraan dimasa yang akan datang)
5. Lalu dibuat penjadwalan dugaan untuk setiap pengguna berdasarkan tujuannya, tentukan waktu yang dibutuhkan (seperti penjadwalan produksi dari material sampai produk jadi)
6. Tentukan batas waktu yang dibutuhkan pengguna untuk sampai ketujuan
7. Bandingkan penjadwalaan dugaan dengan batas waktu yang dibutuhkan, jika terdapat penyimpangan/keterlambatan maka lakukan analisis keterlambatan dengan melihat jumlah pengguna yang mengalami keterlambatan, dan perkiraan kerugian biaya yang dialami (terutama pada klien/tamu)
Lalu untuk menanggapi solusi untuk menambah lift saya setuju namun pertimbangan yang dilakukan adalah sbb:
1. Tentukan lift yang dibutuhkan sesuai jumlah pengguna yang mengalami keterlambatan,
2. Lakukan analisis biaya yang akan dikeluarkan jika menambah lift (biaya tetap dan variabel) terhadap kerugian yang dialami jika tidak menambah lift
3. Jika dinyatakan layak maka tambahkan lift sesuai yang dibutuhkan
Lakukan analisis penjadwalan seperti yang pertama dilakukan tadi. Apakah mengalami keterlambatan lagi atau tidak.
Semoga solusi ini dapat membantu.
Salam hormat,
Jefry Ismaro
Posted by: 'jEfRi' | August 27, 2007 10:28 PM
Halo Jef, gmana nih seminarnya? Jefri ini spesialis memimpin proyek besar di JTMI UGM~ international & national seminars.
Selamat ya atas kelulusannya. Kalo saya sih bilang, selama manusia masih hidup tantangan akan selalu datang. Tantangan akan bikin hidup lebih hidup [kok kayak iklan rokok ya?]
Untuk Kuisznya,
Ini ada satu lagi yang mengikuti aliran OR :-)
Solusi yang ditawarkan bisa menjadi salah satu alternatif pertimbangan dari pengambil keputusan.
====================
kunci dari buku:
====================
karena sudah banyak yg merespon, kunci jawaban yg dari buku saya posting aja.
Tapi saya harus mengingatkan bahwa untuk kasus seperti ini, solusi dari buku tidak selalu yang terbaik. Bisa jadi banyak alternatif jawaban yang sama-sama baik dan bisa diterima. Seperti usulan solusi dari IEers sebelumnya.
Jawabannya adalah:
persis yang dikatakan Resha. Saya jadi heran jangan-jangan penulis bukunya Resha ya??
Varian lain:
Cermin yang bisa untuk killing time sembari menunggu lift datang diganti dengan TV yang menyiarkan berita, stock exchange, dll.
Thks for your participations.
Everyone's got an A
:-)
Posted by: Budi | September 4, 2007 08:14 AM
selamat pagi pak.
pak saya mau bertanya soal pemecahan line balancing dengan menggunakan operations research.
baik mana menggunakan programa integer,linier,atau dinamik pa?
punya sumbernya tidak pa?
makasih pa...
Posted by: Jay | June 7, 2008 09:24 PM