Archive for November, 2007

Berhenti Ngeblog !!!

Friday, November 30th, 2007

Setelah dipikirkan dengan seksama dalam tempo yang cukup lama, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti blogging


di Friendster.
Alamat baru sekarang ada di
http://budihartono.wordpress.com/

regards
b oe d

Bekerja dengan CInta

Sunday, November 11th, 2007

Bekerja dengan cinta
Bagai sang pencipta

adalah sepenggal bait lagu Kla Project yang populer pada jamannya.
Saat saya membaca koran The Straits Times edisi Rabu 7 Nove 2007, saya  jadi  teringat dengan lagu itu.

Ceritanya, di Singapore ini setiap tahun diadakan pemberian awards untuk karyawan yg mereka sebut Excellent Service Awards. Dari berbagai industri, dinominasikanlah karyawan-karyawan yang dianggap "going extra miles". Artinya, karyawan yang mau bekerja dan melayani pelanggannya jauh di atas standar.

Pemenangnya beragam, ada sopir bis, karyawan di counter airport, perawat, dll. Di koran tersebut, profil-profil mereka diekspose. Meski latar belakang mereka beragam, namun ada satu kesamaan: mereka bekerja dengan cinta. Jika kita melihatnya dari teori kebutuhannya Abraham Maslow; mereka inilah yang berada pada puncak piramida Maslow’s hierarchy of needs.

Ayo kita lihat beberapa komentar para pemenang tersebut yg saya kutip dari koran:

1. Hoy Man Lin, 54, bus captain
(sopir bis)
A bus driver for the past 14 years, Mr Hoy reports to work each morning between 4am and 5 am
[jam kerja normal di Singapura dimulai jam 9:00 am] with a single minded aim: to brigthen the day for someone else.

"My fulfillment comes whenever I see people happier as they see the bus approaching the bus stop … knowing that someone is waiting at the bus stop for me keeps me punctual and motivated"

2. Ms. Garmit Kaur (customer service, SIA)
[In one occasion]  Ms Kaur managed to find a plane seat for Mr David Irwin, who needed to return to Melbourne urgently as a family member had died. All the flights to Melbourne were full that day. Fortunately she was able to book and confirm his flight. She also informed the boarding gate crew about his special circumstances and asked that they take special care of him.

"I am a people-oriented person, and I would go extra mile for any passenger. I put myself in their shoes, showing empathy and serving them in the same way that I would like to be served".

Well, saya yakin banyak orang Indonesia yang bekerja dengan prinsip yang sama: bekerja dengan cinta. IE-ers, apakah anda salah satunya?

(b oe d)

Ingin Menjadi Dosen [?] ~bagian 2

Saturday, November 10th, 2007

On Becoming a Lecturer: Facts and Myths (part II of II)

Oke deh, kita lanjutin obrolan santai tentang fakta dan mitos mengenai  dosen.
Perlu diingetin lagi nih bahwa semua yg ditulis di blog ini adalah pendapat pribadi. Tidak terkait ataupun mencerminkan kebijakan dari suatu institusi.
Jadi seperti biasa kita bisa sepakat untuk tidak sepakat.

# Setelah lulus, langsung jadi dosen atau …
Kalo saya dulunya gak langsung jadi dosen. Habis lulus di Mesin ITB, saya kerja dulu di sebuah BUMN di Jakarta selama tiga tahun. Dari pengalaman saya sendiri dan hasil ngobrol dengan beberapa kolega, dapat disarikan bahwa kerja di industri sebelum menjadi dosen memberi beberapa keuntungan:
a. Hand on experience
Yang jelas setelah kita sempat kerja di industri, pandangan kita menjadi lebih terbuka mengenai dunia nyata. Bahwa apa yg ada di text book tidak selalu jalan di dunia nyata. Hal ini disebabkan adanya perbedaan konteks, paradigma, asumsi yang digunakan di textbook  dan  di dunia  nyata.  Bukan berarti  bahwa ilmu text book tidak berguna di dunia nyata, namun lebih seringnya kita harus mengadaptasi konsep-konsep textbook agar kontekstual.

Selain itu, dengan merasakan sendiri bekerja di dunia industri, dosen akan bisa menyisipkan pengalaman-pengalamannya di saat memberi pelajaran. Contoh-contoh yang ditampilkan saat mengajar menjadi realistis - dan mudaha-mudahan menjadi lebih menarik bagi mahasiswa.

b Network
Dengan pernah merasakan bekerja di industri, jaringan pertemanan / komunikasi kita menjadi luas, terutama di bidang kerja kita. Sebagai contoh, karena saya dulu bekerja di Engineering & Construction company, maka saya jadi punya banyak kenalan di ranah ini.

Network yang luas akan berguna sekali, misalnya: membantu dalam penelitian, tukar informasi tentang pengetahuan terbaru, konsultasi, dsb.

c Open Minded
Terkadang dosen terlalu fokus ke bidangnya, dan tidak mau tahu lagi hal lain di luar bidang keilmuannya. Misal, karena merasa sebagai dosen teknik maka anti dengan segala hal terkait manajemen. Pendekatan seperti ini sangat tidak cocok untuk domain teknik Industri karena enjineer teknik industri dituntut untuk mampu bekerja di berbagai macam SOCIO-TECHNICAL SISTEM. Agar enjineer IE bisa berpikiran luas, maka dosennya harus juga mampu berpikiran luas dan bisa ‘menularkannya’ ke mahasiswanya.

Kesempatan untuk bekerja di dunia industri akan memberikan peluang untuk melihat dunia industri dalam ‘gambar besar’ - suka atau tidak suka. Saat anda bekerja di dunia industri, anda akan terekspose pada tugas-tugas yang menuntut anda untuk bisa bekerja sama dengan orang lain dan melihat masalah secara sistemik / holistik. Trend kerja di industri saat ini adalah mengurangi / menghilangkan silos of expertise. Anda akan membawa attitude ini saat anda menjadi dosen.

d Memperjelas niat
Menjadi dosen, menurut saya, adalah panggilan. Seorang dosen [seharusnya] dituntut untuk banyak berkorban dengan tujuan menjadi pendidik yg baik. Banyak tantangan dan godaan dalam perjalanan untuk menjadi seorang dosen. Gaji yang besar di tempat lain, misalnya.

Karenanya, untuk meyakinkan apakah anda benar-benar ingin (passionate) menjadi dosen, salah satunya adalah dengan ‘mencicipi’ pekerjaan lain - di industri. Jika ternyata setelah anda bekerja di industri sekian lama, dengan gaji yg cukup, fasilitas oke, dan hati kecil anda tetap menginginkan menjadi dosen - berarti dosen adalah panggilan jiwa anda.

Anda tidak akan sedih saat bertemu teman seangkatan anda sudah menjadi manajer di sana, mondar-mandir ke LN, gaji besar, dsb karena menjadi dosen adalah PILIHAN anda. Bukan suatu keterpaksaan.

# Perlukah Sekolah lagi?
Kayaknya untuk yang ini jawabannya udah jelas. Dosen dituntut untuk selalu mengupgrade dirinya agar bisa kompeten. Karena salah satu tugas dosen adalah menjadi peneliti, maka dia harus punya kecakapan untuk bisa menjadi peneliti mandiri. Gelar Ph.D atau Doktor memberikan gambaran bahwa sang penyandang adalah seseorang yg berkompeten untuk melakukan penelitian secara mandiri.

Selain itu dosen seharusnya selalu mengupdate kemampuannya agar tidak kuper. Karenanya dosen harus selalu haus untuk selalu belajar dari manapun - bahkan dari mahasiswanya. Saya jadi inget petuah kakak saya yg udah lama bekerja di Industri "Boed, kalo loe mo jadi dosen; jangan jadi dosen yg kuper. Jangan cuman ajarin mahasiswa kamu ilmu yang udah basi - kasian mereka". Atau saya juga inget apa yg disampaikan oleh pak Bagyo (Kaprodi TI UGM): "jangan sampai dosen menyampaikan suatu materi  kuliah ‘A’ ke mahasiswa HANYA dengan alasan karena dulu materi ‘A’ itu yang diajarkan ke sang dosen waktu dia kuliah".

Asah kapak… asah kapak.

# Dosen = pinter di akademik
Well, ini adalah syarat perlu tapi bukan syarat cukup. Orang yang pinter di akademik belum tentu cocok jadi dosen, tapi untuk jadi dosen perlu modal itu.
He he .. agak ruwet ya?

Di samping harus jago di bidang akademik [oke deh IP=3,banyak gitu; cum laude juga boleh, dst], menurut saya dosen kok harus jago di bidang soft skill.

Wah apa pula itu soft skills?
Kira-kira sih artinya kemampuan untuk berinteraksi dengan manusia lain. Ya sesama dosen, mahasiswa, kolega di industri, dll. Jadi yg dituntut untuk jago soft-skill tidak hanya mahasiswa lho.

# Dosen = serem
Wah kalo ini saya gak tahu deh. Tapi apa ya masih jamannya dosen itu harus serem? Kalo serem so what gitu lho? Mahasiswa jadi gak berani mengungkapkan pendapat, tak ada diskusi, sepi, ngatuk, boring.

Tapi kalo emang sudah gawan bayi / inherent ya mo gimana lagi lah. Harap maklum.

# Dosen = sumber ilmu pengetahuan
Kemunginan besar tidak deh. Dosen juga manusia. Bukan ‘dewa’ ilmu pengetahuan - serba tahu. So semestinya dosen mengakui bahwa sekali-sekali tidak tahu ya gak masalah. Tapi kalo sering-sering ya jangan.

Paradigma baru pembelajaran adalah SCL - student-centered-learning. Kurang lebih artinya adalah bahwa mahasiswa harus diberi kesempatan  untuk bisa belajar sesuai gaya  belajarnya  sendiri. Ada deduktif, ada induktif. Ada yg jago belajar secara abstrak - pinter banget nurunin rumus yg  pake  integral lipat  lima; ada yg pinternya belajar dengan  intuisi dan  studi kasus; ada pula yang lihainya belajar dengan  mempraktekkan. Dosen ya bertindak sebagai fasilitator bukan dewa ilmu pengetahuan.

Intinya, learn smart, play hard. Contohnya ya ini: Bridge


Bridge design challenge

Ti_legame



LeGame ~ Designers’ catalyst

Lagian, sumber informasi dan pengetahuan sekarang sangat banyak. Perpustakaan, koran, wikipedia [tapi hati-hati kao pakai], friendster, blogs,  open courseware-nya MIT ; youtube, dll. Apa ya mungkin dosen menyerap semua info itu trus disampaikan ke mahasiswa? Dosen malah akan jadi bottleneck jika semua info dipaksa melalui single portal: dosen.

# Modal dosen?
Honesty, passion, determination, self motivation

# Indikator keberhasilan dosen?

Apakah itu indikator kesukesan seorang dosen?
- jabatan profesor?
- publikasi ratusan?
- dana penelitian besar?
- grup riset yg solid?
- menjadi world-level expert?

Ya, semua itu bisa jadi indikator. Tapi ada satu hal jgn dilupakan.
Saya kok senang mengambil konsep "transformational leadership"-nya rekan-rekan di manajemen untuk mengukur indikator keberhasilan seorang dosen.

Menurut transformational leadership, seorang  pemimpin dianggap sukses  jika  dia  bisa  mencetak  pemimpin-pemimpin baru yang lebih  canggih dari pada dirinya. Dan ternyata IEers, konsep transformational leadership itu mirip banget ama falsafah pengajarannya Ki Hajar Dewantara: Tut Wuri Handayani.

Diadopsi untuk kasus dosen:
Seorang dosen dianggap sukses jika dia bisa mencetak lulusan-lulusan yang lebih baik dari pada sang dosen - meskipun sang lulusan tidak harus jadi dosen.

Saya kadang berangan-angan dan berharap, 15-20 tahun lagi saya akan bisa memetik buah sebagai dosen. Melihat mahasiswa-mahasiswa saya menjadi orang yang berguna [apapun profesi dan perannya], bangga sebagai enjineer, berintegritas tinggi, menjadi pioner bagi perubahan negeri ini. Ujung tombak perbaikan. Saat itulah kami sebagai gurunya bisa berkata: "tak sia-sia lah kami". 

Tugas yang berat bukan??

So, IE-ers,
Bagaimana dengan anda?