<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Systems Thinking ~ Beyond what you think</title>
	<atom:link href="http://budih.blog.friendster.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://budih.blog.friendster.com</link>
	<description>Systems Thinking &#124; Systems Engineering &#124; Engineering Professions &#124; Engineering Ethics &#124; Engineering Project Management &#124;&#124; in Bahasa INDONESIA</description>
	<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 07:19:19 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Berhenti Ngeblog !!!</title>
		<link>http://budih.blog.friendster.com/2007/11/berhenti-ngeblog/</link>
		<comments>http://budih.blog.friendster.com/2007/11/berhenti-ngeblog/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 12:22:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budih</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budih.blog.friendster.com/2007/11/berhenti-ngeblog/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah dipikirkan dengan seksama dalam tempo yang cukup lama, akhirnya saya memutuskan <span style="font-size: 1.4em"><strong>untuk berhenti blogging</strong></span></p>
<p>&#8230;<br />&#8230;</p>
<p>di Friendster.<br />Alamat baru sekarang ada di <br />http://budihartono.wordpress.com/</p>
<p>regards<br />b oe d</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budih.blog.friendster.com/2007/11/berhenti-ngeblog/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bekerja dengan CInta</title>
		<link>http://budih.blog.friendster.com/2007/11/bekerja-dengan-cinta/</link>
		<comments>http://budih.blog.friendster.com/2007/11/bekerja-dengan-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Nov 2007 10:10:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budih</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Industrial &amp; Systems Engineering]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budih.blog.friendster.com/2007/11/bekerja-dengan-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #6600cc">Bekerja dengan cinta<br />Bagai sang pencipta<br />&#8230;</span><span style="color: #000000"><br />adalah sepenggal bait lagu Kla Project yang populer pada jamannya.<br />Saat saya membaca koran The Straits Times edisi Rabu 7 Nove 2007, saya&nbsp; jadi&nbsp; teringat dengan lagu itu. </p>
<p>Ceritanya, di Singapore ini setiap tahun diadakan pemberian awards untuk karyawan yg mereka sebut Excellent Service Awards. Dari berbagai industri, dinominasikanlah karyawan-karyawan yang dianggap &quot;going extra miles&quot;. Artinya, karyawan yang mau bekerja dan melayani pelanggannya jauh di atas standar. </p>
<p>Pemenangnya beragam, ada sopir bis, karyawan di counter airport, perawat, dll. Di koran tersebut, profil-profil mereka diekspose. Meski latar belakang mereka beragam, namun ada satu kesamaan: mereka <strong>bekerja dengan cinta. </strong>Jika kita melihatnya dari teori kebutuhannya Abraham Maslow; mereka inilah yang berada pada puncak piramida <em>Maslow&#8217;s hierarchy of needs</em>.</p>
<p>Ayo kita lihat beberapa komentar para pemenang tersebut yg saya kutip dari koran:<br /><strong><br /><span style="color: #003300">1. Hoy Man Lin, 54, bus captain</span></strong></span><span style="color: #003300"> (sopir bis)<br />A bus driver for the past 14 years, Mr Hoy reports to work each morning between 4am and 5 am </span><span style="color: #003300">[jam kerja normal di Singapura dimulai jam 9:00 am] with a single minded aim: to brigthen the day for someone else.</p>
<p>&quot;My fulfillment comes whenever I see people happier as they see the bus approaching the bus stop &#8230; knowing that someone is waiting at the bus stop for me keeps me punctual and motivated&quot;</span><span style="color: #003300"></p>
<p></span><span style="color: #003300"><strong>2. Ms. Garmit Kaur (customer service, SIA)</strong><br /></span><span style="color: #003300">[In one occasion]&nbsp; Ms Kaur managed to find a plane seat for Mr David Irwin, who needed to return to Melbourne urgently as a family member had died. All the flights to Melbourne were full that day. Fortunately she was able to book and confirm his flight. She also informed the boarding gate crew about his special circumstances and asked that they take special care of him.</p>
<p>&quot;I am a people-oriented person, and I would go extra mile for any passenger. I put myself in their shoes, showing empathy and serving them in the same way that I would like to be served&quot;.<br /></span><span style="color: #000000"></p>
<p>Well, saya yakin banyak orang Indonesia yang bekerja dengan prinsip yang sama: bekerja dengan cinta. <strong>IE-ers, apakah anda salah satunya?</strong></p>
<p>(b oe d)<br /></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budih.blog.friendster.com/2007/11/bekerja-dengan-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ingin Menjadi Dosen [?] ~bagian 2</title>
		<link>http://budih.blog.friendster.com/2007/11/ingin-menjadi-dosen-bagian-2/</link>
		<comments>http://budih.blog.friendster.com/2007/11/ingin-menjadi-dosen-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Nov 2007 15:19:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budih</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Industrial &amp; Systems Engineering]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budih.blog.friendster.com/2007/11/ingin-menjadi-dosen-bagian-2/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><u><span style="color: #000099"><strong>On Becoming a Lecturer: Facts and Myths (part II of II)</strong></span></u></p>
</p>
<p>Oke deh, kita lanjutin obrolan santai tentang fakta dan mitos mengenai&nbsp; dosen.<br />Perlu diingetin lagi nih bahwa semua yg ditulis di blog ini adalah pendapat pribadi. Tidak terkait ataupun mencerminkan kebijakan dari suatu institusi. <br /><strong>Jadi seperti biasa kita bisa sepakat untuk tidak sepakat.</strong></p>
<p><span style="color: #000000"><strong># Setelah lulus, langsung jadi dosen atau &#8230;</strong></span><br />Kalo saya dulunya gak langsung jadi dosen. Habis lulus di Mesin ITB, saya kerja dulu di sebuah BUMN di Jakarta selama tiga tahun. Dari pengalaman saya sendiri dan hasil ngobrol dengan beberapa kolega, dapat disarikan bahwa kerja di industri sebelum menjadi dosen memberi beberapa keuntungan:<br /><span style="color: #000099"><em>a. Hand on experience</em></span><br />Yang jelas setelah kita sempat kerja di industri, pandangan kita menjadi lebih terbuka mengenai dunia nyata. Bahwa apa yg ada di text book tidak selalu jalan di dunia nyata. Hal ini disebabkan adanya perbedaan konteks, paradigma, asumsi yang digunakan di textbook&nbsp; dan&nbsp; di dunia&nbsp; nyata.&nbsp; Bukan berarti&nbsp; bahwa ilmu text book tidak berguna di dunia nyata, namun lebih seringnya kita harus mengadaptasi konsep-konsep textbook agar kontekstual.</p>
<p>Selain itu, dengan merasakan sendiri bekerja di dunia industri, dosen akan bisa menyisipkan pengalaman-pengalamannya di saat memberi pelajaran. Contoh-contoh yang ditampilkan saat mengajar menjadi realistis - dan mudaha-mudahan menjadi lebih menarik bagi mahasiswa.</p>
<p><span style="color: #0000cc"><em>b Network</em></span><br />Dengan pernah merasakan bekerja di industri, jaringan pertemanan / komunikasi kita menjadi luas, terutama di bidang kerja kita. Sebagai contoh, karena saya dulu bekerja di Engineering &amp; Construction company, maka saya jadi punya banyak kenalan di ranah ini. </p>
<p>Network yang luas akan berguna sekali, misalnya: membantu dalam penelitian, tukar informasi tentang pengetahuan terbaru, konsultasi, dsb. </p>
<p><span style="color: #000099"><em>c Open Minded</em></span><br />Terkadang dosen terlalu fokus ke bidangnya, dan tidak mau tahu lagi hal lain di luar bidang keilmuannya. Misal, karena merasa sebagai dosen teknik maka anti dengan segala hal terkait manajemen. Pendekatan seperti ini sangat tidak cocok untuk domain teknik Industri karena enjineer teknik industri dituntut untuk mampu bekerja di berbagai macam SOCIO-TECHNICAL SISTEM. Agar enjineer IE bisa berpikiran luas, maka dosennya harus juga mampu berpikiran luas dan bisa &#8216;menularkannya&#8217; ke mahasiswanya. </p>
<p>Kesempatan untuk bekerja di dunia industri akan memberikan peluang untuk melihat dunia industri dalam &#8216;gambar besar&#8217; - suka atau tidak suka. Saat anda bekerja di dunia industri, anda akan terekspose pada tugas-tugas yang menuntut anda untuk bisa bekerja sama dengan orang lain dan melihat masalah secara sistemik / holistik. Trend kerja di industri saat ini adalah mengurangi / menghilangkan <em>silos of expertise. </em>Anda akan membawa <em>attitude</em> ini saat anda menjadi dosen.</p>
<p><span style="color: #000066"><em>d Memperjelas niat</em></span><br />Menjadi dosen, menurut saya, adalah panggilan. Seorang dosen [seharusnya] dituntut untuk banyak berkorban dengan tujuan menjadi pendidik yg baik. Banyak tantangan dan godaan dalam perjalanan untuk menjadi seorang dosen. Gaji yang besar di tempat lain, misalnya. </p>
<p>Karenanya, untuk meyakinkan apakah anda benar-benar ingin <em>(passionate)</em> menjadi dosen, salah satunya adalah dengan &#8216;mencicipi&#8217; pekerjaan lain - di industri. Jika ternyata setelah anda bekerja di industri sekian lama, dengan gaji yg cukup, fasilitas oke, dan hati kecil anda tetap menginginkan menjadi dosen - berarti dosen adalah panggilan jiwa anda.</p>
<p>Anda tidak akan sedih saat bertemu teman seangkatan anda sudah menjadi manajer di sana, mondar-mandir ke LN, gaji besar, dsb karena menjadi dosen adalah PILIHAN anda. Bukan suatu keterpaksaan.</p>
<p><strong># Perlukah Sekolah lagi?</strong><br />Kayaknya untuk yang ini jawabannya udah jelas. Dosen dituntut untuk selalu mengupgrade dirinya agar bisa kompeten. Karena salah satu tugas dosen adalah menjadi peneliti, maka dia harus punya kecakapan untuk bisa menjadi peneliti mandiri. Gelar Ph.D atau Doktor memberikan gambaran bahwa sang penyandang adalah seseorang yg berkompeten untuk melakukan penelitian secara mandiri.</p>
<p>Selain itu dosen seharusnya selalu mengupdate kemampuannya agar tidak kuper. Karenanya dosen harus selalu haus untuk selalu belajar dari manapun - bahkan dari mahasiswanya. Saya jadi inget petuah kakak saya yg udah lama bekerja di Industri &quot;Boed, kalo loe mo jadi dosen; jangan jadi dosen yg kuper. Jangan cuman ajarin mahasiswa kamu ilmu yang udah basi - kasian mereka&quot;. Atau saya juga inget apa yg disampaikan oleh pak Bagyo (Kaprodi TI UGM): &quot;jangan sampai dosen menyampaikan suatu materi&nbsp; kuliah &#8216;A&#8217; ke mahasiswa HANYA dengan alasan karena dulu materi &#8216;A&#8217; itu yang diajarkan ke sang dosen waktu dia kuliah&quot;. </p>
<p>Asah kapak&#8230; asah kapak.</p>
<p><strong># Dosen = pinter di akademik</strong><br />Well, ini adalah syarat perlu tapi bukan syarat cukup. Orang yang pinter di akademik belum tentu cocok jadi dosen, tapi untuk jadi dosen perlu modal itu. <br />He he .. agak ruwet ya?</p>
<p>Di samping harus jago di bidang akademik [oke deh IP=3,banyak gitu; cum laude juga boleh, dst], menurut saya dosen kok harus jago di bidang soft skill.</p>
<p>Wah apa pula itu soft skills?<br />Kira-kira sih artinya kemampuan untuk berinteraksi dengan manusia lain. Ya sesama dosen, mahasiswa, kolega di industri, dll. Jadi yg dituntut untuk jago soft-skill tidak hanya mahasiswa lho.</p>
<p><strong># Dosen = serem</strong><br />Wah kalo ini saya gak tahu deh. Tapi apa ya masih jamannya dosen itu harus serem? Kalo serem so what gitu lho? Mahasiswa jadi gak berani mengungkapkan pendapat, tak ada diskusi, sepi, ngatuk, boring.</p>
<p>Tapi kalo emang sudah gawan bayi / inherent ya mo gimana lagi lah. Harap maklum.</p>
<p><strong># Dosen = sumber ilmu pengetahuan</strong><br />Kemunginan besar tidak deh. Dosen juga manusia. Bukan &#8216;dewa&#8217; ilmu pengetahuan - serba tahu. So semestinya dosen mengakui bahwa sekali-sekali tidak tahu ya gak masalah. Tapi kalo sering-sering ya jangan.</p>
<p>Paradigma baru pembelajaran adalah SCL - student-centered-learning. Kurang lebih artinya adalah bahwa mahasiswa harus diberi kesempatan&nbsp; untuk bisa belajar sesuai gaya&nbsp; belajarnya&nbsp; sendiri. Ada deduktif, ada induktif. Ada yg jago belajar secara abstrak - pinter banget nurunin rumus yg&nbsp; pake&nbsp; integral lipat&nbsp; lima; ada yg pinternya belajar dengan&nbsp; intuisi dan&nbsp; studi kasus; ada pula yang lihainya belajar dengan&nbsp; mempraktekkan. Dosen ya bertindak sebagai fasilitator bukan dewa ilmu pengetahuan.</p>
<p>Intinya, learn smart, play hard. Contohnya ya ini: <a href="http://budih.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/bridge.jpg"><img border="0" alt="Bridge" src="http://budih.blogs.friendster.com/budi_hartono/images/bridge.jpg" style="margin: 0px 5px 5px 0px;float: left;width: 100px;height: 75px" /></a><br />
 </p>
</p>
<p><span style="color: #cc0099"><strong><br /></strong></span></p>
<p><span style="color: #cc0099"><strong>Bridge design challenge</strong></span></p>
<p> <a href="http://budih.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/ti_legame.jpg"><img width="100" height="75" border="0" alt="Ti_legame" src="http://budih.blogs.friendster.com/budi_hartono/images/ti_legame.jpg" style="margin: 0px 5px 5px 0px;float: left" /></a>
</p>
</p>
<p><span style="color: #cc0099"><strong><br /></strong></span></p>
<p><span style="color: #cc0099"><strong><br /></strong></span></p>
<p><span style="color: #cc0099"><strong>LeGame ~ Designers&#8217; catalyst <br /></strong></span></p>
</p>
<p>Lagian, sumber informasi dan pengetahuan sekarang sangat banyak. Perpustakaan, koran, wikipedia [tapi hati-hati kao pakai], friendster, blogs,&nbsp; <a href="www.ocw.mit.edu">open courseware-nya MIT</a> ; youtube, dll. Apa ya mungkin dosen menyerap semua info itu trus disampaikan ke mahasiswa? Dosen malah akan jadi bottleneck jika semua info dipaksa melalui single portal: dosen. </p>
<p><strong># Modal dosen?</strong><br /><em>Honesty, passion, determination, self motivation</em><br /><strong><br /># Indikator keberhasilan dosen?</strong><br />Apakah itu indikator kesukesan seorang dosen?<br />- jabatan profesor?<br />- publikasi ratusan?<br />- dana penelitian besar?<br />- grup riset yg solid?<br />- menjadi world-level expert?</p>
<p>Ya, semua itu bisa jadi indikator. Tapi ada satu hal jgn dilupakan.<br />Saya kok senang mengambil konsep &quot;transformational leadership&quot;-nya rekan-rekan di manajemen untuk mengukur indikator keberhasilan seorang dosen.</p>
<p>Menurut <em>transformational leadership, </em>seorang&nbsp; pemimpin dianggap sukses&nbsp; jika&nbsp; dia&nbsp; bisa&nbsp; mencetak&nbsp; pemimpin-pemimpin baru yang lebih&nbsp; canggih dari pada dirinya. Dan ternyata IEers, konsep <em>transformational leadership</em> itu mirip banget ama falsafah pengajarannya Ki Hajar Dewantara: Tut Wuri Handayani.</p>
<p>Diadopsi untuk kasus dosen:<br />Seorang dosen dianggap sukses jika dia bisa mencetak lulusan-lulusan yang lebih baik dari pada sang dosen - meskipun sang lulusan tidak harus jadi dosen.</p>
<p>Saya kadang berangan-angan dan berharap, 15-20 tahun lagi saya akan bisa memetik buah sebagai dosen. <strong>Melihat</strong> mahasiswa-mahasiswa saya menjadi orang yang berguna [apapun profesi dan perannya], bangga sebagai enjineer, berintegritas tinggi, menjadi pioner bagi perubahan negeri ini. Ujung tombak perbaikan. <u><strong>Saat itulah</strong></u> kami sebagai gurunya bisa berkata: &quot;tak sia-sia lah kami&quot;.&nbsp; </p>
<p>Tugas yang berat bukan??<br />&#8212;<br />So, IE-ers,<br />Bagaimana dengan anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budih.blog.friendster.com/2007/11/ingin-menjadi-dosen-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ahh cuman kurang di koma aja &#8230;</title>
		<link>http://budih.blog.friendster.com/2007/10/ahh-cuman-kurang-di-koma-aja/</link>
		<comments>http://budih.blog.friendster.com/2007/10/ahh-cuman-kurang-di-koma-aja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Oct 2007 16:15:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budih</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Industrial &amp; Systems Engineering]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budih.blog.friendster.com/2007/10/ahh-cuman-kurang-di-koma-aja/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hi all,<br />Saya barusan dapet cerita dari seorang temen yg bekerja sebagai engineers di negeri Singa ini. Ceritanya menarik. </p>
<p>Tapi sebelumnya, kita flash back dulu sebentar&#8230;<br />Masih inget [ato mungkin juga sekarang masih] pas jamannya kuliah?<br />Anda mengerjakan soal UAS matematika ato ekonomi teknik? Soalnya agak susyah tapi anda yakin udah sukses mengerjakan soalnya. Yakin deh, minimal nilai 90 di tangan. Saat hari pengumuman nilai ditempel &#8230; e, ternyata anda dapet 75.<br />Terang aja anda nggak puas, menghadaplah ke dosen untuk menanyakan. Kayaknya yakin banget deh kalo aku bisa ngerjain. Kenapa nilainya cuman 75?</p>
<p>Why? why?<br />Ternyata dari penjelasan sang dosen, didapet jawabannya. Anda salah memberi tanda koma di jawaban anda. Yang seharusnya 34,567; anda tulis 345,67. Semua itungan betul lho, cuman salah di nulis koma <img src='http://budih.blog.friendster.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> so sad &#8230; </p>
<p><strong>Ahh cuman kurang di koma aja &#8230;</strong></p>
<p><span style="color: #6600cc">Sekarang kita coba liat cerita temen saya yg engineer di kota Singa ini. Kebetulan dia sedang ditugasi perusahaannya untuk mengerjakan proyek.&nbsp; Proyek apaan? gak penting deh. Yang penting&nbsp; jenis proyeknya adalah&nbsp; <em>unit price </em>bukan <em>fixed firm cost (lump sum). </em>[Tentunya saya gak perlu njelasin apa bedanya UP atau FFP, anak IE pasti tau deh]. Karena <em>unit price</em>, maka perusahaan akan dibayar berdasar klaim pekerjaan aktual yang dilaksanakan. Misal: melakukan pekerjaan painting. Unit pricenya: $10/ m^2. Kalo pekerjaannya sebanyak 100 m^2 brarti perusahannya akan mengklaim sebesar $1,000 ke klien.</p>
<p>Secara </span><span style="color: #6600cc">dari singkatnya gitu</span><span style="color: #6600cc"> [halah],&nbsp; teman saya ini diminta membuat laporan yg akan dijadikan landasan klaim ke klien. Ternyata, karena hitungannya pake excel,&nbsp; ada rumus hitungan yg salah. Ya kira-kira mirip ama kejadian ujian mahasiswa di cerita sebelumnnya. <em>Trivial mistakes </em>!!!</p>
<p>Kalo di cerita ttg mahasiswa, konsekuensi kesalahan adalah nilai yg gak optimal. Gimana dengan t<em>rivial mistakes </em> yg terjadi&nbsp; di&nbsp; dunia&nbsp; kerja? <br />Ini gambarannya: karena salah rumus, pekerjaan sebanyak 1000 unit tidak terklaim. Satu unit kerja setara dengan $50. Jadi, total nilai yg tak terklaim= $50,000.&nbsp; Dengan kurs&nbsp; 1$=Rp 6000; nilainya kira-kira sebesar RP 300&nbsp; Juta !</p>
<p>Banyak cerita sejenis ini yg pernah saya dengar dari rekans praktisi. Mungkin anda pernah dengar/baca/ liat di Discovery Channel: </p>
<p>sebuah misi ruang angkasa bernilai milyaran dollar gagal karena &#8230;. <br />&#8230;<br />&#8230;<br />&#8230;<br /><u>engineers nya lupa menyamakan satuan</u>. Yup, sebagian data pake satuan SI sebagian yg lain pake satuan British. Keduanya langsung digabung saat dilakukan perhitungan. Lupa mengubah satuan !!! [sound familiar in your engineering course exams?] </span></p>
<p><span style="color: #000000">Jadi, please deh<br />The devil is in detail</span><span style="color: #6600cc"> <br /></span></p>
<p><span style="color: #6600cc">(C) b oe d<br />  </span></p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budih.blog.friendster.com/2007/10/ahh-cuman-kurang-di-koma-aja/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Belahan Jiwa</title>
		<link>http://budih.blog.friendster.com/2007/09/belahan-jiwa/</link>
		<comments>http://budih.blog.friendster.com/2007/09/belahan-jiwa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Sep 2007 17:18:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budih</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Poems &amp; Thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budih.blog.friendster.com/2007/09/belahan-jiwa/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #0000cc"><strong><em><br />begin<br />set<br />&nbsp; &nbsp; physical distance = |SIN-JOG|<br />&nbsp; &nbsp; actual distance = |NIL|</em></strong><br /><em><strong>end</strong></em></p>
<p>Membaca lagi surat-suratmu<br />Hatiku jatuh rindu<br />Tak sadar pada langit kamarku<br />Kulukis kau di situ<br />Waktu yang berlalu<br />dan jarak masih saja terentang<br />Penamu bicara &#8230;</p>
<p>Menembus ruang menyapa sukmaku<br />Mendesak lembut angin membawa<br />Butiran hati lara<br />Ternyata meraih kesempatan<br />Tak semudah kusangka</p>
<p>Kau setia menunggu (mu)<br />Lelaki kecil menantang hidup<br />Kau sertakan doa &#8230;<br />Seolah mantra menjelma nafasmu</p>
<p>Memendam tanya seg&#8217;ra terucap,<br />Belahan Jiwa apa kabarmu?<br />Kuharap selalu tetap kau jaga<br />Tumbuhan cinta yang di ladang kita</p>
<p>Aku jauh di sini menggapai cinta<br />Hingga suatu saat nanti ku kan kembali<br />Kan kujemput dikau sang putri<br />Pada saatnya nanti<br />Berkereta kencana kubawa pergi<br />Tuju istana di sana kubertahta</span></p>
<p><span style="color: #0000cc">(c) KLa Project <br />~ Singapore 01:15 am<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budih.blog.friendster.com/2007/09/belahan-jiwa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ingin menjadi dosen [?] Fakta &#38; Mitos</title>
		<link>http://budih.blog.friendster.com/2007/08/ingin-menjadi-dosen-fakta-mitos/</link>
		<comments>http://budih.blog.friendster.com/2007/08/ingin-menjadi-dosen-fakta-mitos/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Aug 2007 13:48:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budih</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Industrial &amp; Systems Engineering]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budih.blog.friendster.com/2007/08/ingin-menjadi-dosen-fakta-mitos/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><u><span style="color: #000099"><strong>On Becoming a Lecturer: Facts and Myths (part I of II)</strong></span></u></p>
<p><strong>IE-ers.</strong> Setelah anda lulus anda ingin jadi apa?<br />Bidang kerja IE sebenarnya sangat luas, peluang bekerja anda sangat bervariasi. Sebelum akhirnya anda memilih (ya memilih bukan terpaksa) suatu jalur karier, seperti yang pernah saya sampaikan; pertimbangkan hal berikut:<br />a. <em>passion</em><br />b. <em>competence</em><br />c. <em>contribution</em> to the community.</p>
<p>Jika ternyata anda merasa bahwa dari tiga hal tersebut, anda punya <em>&quot;feeling&quot;</em> ingin menjadi seorang dosen - mungkin ada baiknya anda sempatkan membaca tulisan di bawah ini.</p>
<p>Tulisan ini tentunya adalah pendapat pribadi, tidak mencerinkan pendapat suatu institusi. Dan seperti biasa, <strong><em>kita bisa sepakat untuk tidak sepakat</em></strong>. Mari kita lihat satu persatu &quot;mitos&quot; dan &quot;fakta&quot; seputar profesi dosen.</p>
<p><strong># Dosen = pilihan terakhir</strong><br />Ini terjadi jika anda sudah melamar ke sana ke mari di berbagai perusahaan, pemda dan sejenisnya dan belum beruntung. Akhirnya, sebagai pilihan terakhir anda TERPAKSA melamar menjadi dosen dan diterima.</p>
<p>Saya sungguh prihatin jika anda nanti mengalami hal seperti ini. Bekerja apapun itu, jika terpaksa ya berarti nggak ikhlas. Jika tidak ikhlas anda tidak akan termotivasi. Kerja anda menjadi tidak 100%. <em>You&#8217;re wasting your time.&nbsp; </em></p>
<p>Karier sebagai dosen, terutama di PT favorit &amp; Jurusan favorit (<a href="http://budih.blogs.friendster.com/budi_hartono/2007/08/ti_ugm_dalam_st.html">seperti TI UGM</a>, he he&#8230;) sudah sangat kompetitif. Kompetitif sejak dari seleksi masuknya maupun dalam perjalanan kariernya. Anda yang gak ikhlas alias terpaksa tidak akan bisa bertahan dalam dunia yang sangat kompetitif. </p>
<p><strong># Dosen = santai</strong><br />Mungkin sebagian dari kita menganggap kerja dosen santai. Dosen &#8216;kan ngajarnya sedikit SKS. Bisa masuk kerja semau gue jamnya. Abis kuliah ngilang. Nggak ada yg bakal marahin seperti kalau kerja di kantor atau pabrik.</p>
<p>Well, it all depends.<br />Memang tidak ada yang menegur, tapi kita semua kan tahu, di ATAS sana ada yang memonitor?&nbsp; Kalau saya melihat bahwa kerja dosen sama dengan kerja di kantoran atau pabrikan. Anda saat masuk pertama kali sudah menandatangani kontrak kerja. Sebesar apapun gaji anda, anda harus menghargai kontrak anda sebagai dosen. Anda gak bisa seenaknya ngilang setelah atau sebelum ngajar, apalagi saat jam kerja, kecuali sedang mengerjakan tugas. Saat anda tanda tangan kontrak, berarti anda sudah terikat janji untuk bekerja dengan profesional. </p>
<p>Perlu diingat pula bahwa tugas dosen ada tiga:<br />a. edukasi<br />b. penelitian<br />c. <em>community services</em></p>
<p>Jadi, kalo anda bayangkan dosen bisa bersantai saat tidak ada kuliah, ya itu tidak tepat. Kuliah di kelas hanyalah sebagian dari tugas anda. Di bidang edukasi, di samping mengajar di depan kelas, anda juga bertanggung jawab memeriksa ujian, memutakhirkan bahan ajar, membaca buku-buku terbaru, membuat inovasi kegiatan belajar. Mahasiswa anda nantinya kan pasti gak senang kalo dapet kuliah yg isi materinya dibuat 10 tahun yang lalu - <em>outdated.</em> Anda cuman ngajarin apa yg dulu anda dapetkan waktu kuliah. Ilmu IE berkembang sangat pesat. Belum kegiatan lain seperti penelitian yg bisa sangat memakan waktu (dan menguras pikiran), serta pengabdian masyarakat.</p>
<p>Menurut saya, <em>base</em> tempat kerja dosen ya Laboratoriumnya. Jadi, saat tidak sedang mengajar di kelas atau melaksanakan tugas lain; dosen harusnya gampang ditemui di Lab-nya. Seperti halnya pekerja kantoran / pabrikan, dosen semestinya gampang ditemui di ruangannya.</p>
<p>Jadi kalau motivasi anda menjadi dosen adalah supaya bisa banyak waktu luang, well&#8230; dengan berat hati saya <strong>katakan anda tidak benar.</strong></p>
<p><strong># Dosen itu gajinya kecil</strong><br />Persepsi yang sangat biasa muncul terutama di Indonesia. Kalau anda jadi profesor di Malaysia atau Singapura, kasus ini jelas gak ada. Anda tahu berapa gaji seorang profesor di Singapura? SGD 20,000 perbulan. Silahkan anda konversi sendiri ke rupiah.</p>
<p>Oke, lalu bagaimana dengan di Indonesia?<br />Saya selalu teringat pesan salah satu dosen saya dulu di ITB: <span style="color: #0000ff">&quot;dosen itu memang gaji (<em>salary</em>)-nya rendah, tapi pendapatannya (<em>income</em>)-nya tergantung dari dosen itu sendiri&quot;</span>. Trus saya membatin &quot;<span style="color: #0000cc">apalagi kalo kerjanya di PT favorit plus di Jurusan favorit</span>&quot;, seperti di &#8230; [you know].</p>
<p>Prinsipnya adalah bekerja dengan bersungguh-sungguh, jujur, dan berprestasilah. Rejeki yang memang sudah diatur oleh Allah SWT, Insya Allah akan mengikuti dedikasi, kesungguhan, doa, dan kejujuran anda. Tentunya, hal itu perlu proses.</p>
<p>Sebagai gambaran kasar, dulu si X pernah bekerja di kontraktor Jakarta. Setelah pindah ke luar kota dan memilih (ya MEMILIH, bukan terpaksa) menjadi dosen, berdasar informasi , rejeki si X setelah menjadi dosen tak kalah dibandingkan saat kerja di kontrakor - seringnya lebih besar. <img src='http://budih.blog.friendster.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>So <em>don&#8217;t worry</em> rejeki sudah ada yang mengatur. </p>
<p><strong># Proyek</strong><br />&quot;Dosen mroyek&quot;. Kalimat ini biasanya berimplikasi negatif.<br />Saya pribadi berpendapat bahwa bekerja sama dengan industri untuk seorang dosen itu boleh - bahkan harus. Bekerja sama dengan industri untuk seorang dosen saya masukkan dalam kategori pengabdian masyarakat. Kalo anda dosen IE, tentunya anda harusnya punya <em>link</em> dengan para profesional di bidang itu juga kan?</p>
<p>Mahasiswa anda tentu lebih bangga kalau tahu ternyata dosennya punya relasi yang luas dan baik dengan dunia industri. Pendapat dosennya menjadi pegangan dunia industri. dll. Dengan relasi yang kuat antara dosen dan industri, lulusan akan lebih mudah diterima kerja. Mahasiswa akan lebih mudah mendapatkan tempat magang, kerja praktek, tempat skripsi, dll. </p>
<p>Kerja sama dengan industri akan membuat dosen jadi gaul - nggak kuper. Bayangkan kalau dosennya aja kuper, gak <em>ngeh</em> kalau di luar sana ternyata -misal- <em>linear programming </em>sudah biasa dipakai di industri dengan menggunakan Excel. Kira-kira mahasiswanya akan seperti apa? </p>
<p>Berikut saya kutipkan pendapat dari salah satu profesor (A/Prof Tang Loon Ching)  di NUS mengenai proyek dosen. Beliau menggunakan istilah &quot;konsultasi dan kolaborasi industri&quot;.</p>
<p><span lang="ZH-CN"><span style="color: #3300cc">There is no better way in demonstrating the <u>relevance</u> of course materials than real applications by means of industrial collaborations and/or consulting. More importantly, questions arising from the course of consulting can often be translated to problems worthy of further research. The trio, i.e. research, teaching and consulting, is the corner stone in a knowledge enterprise (emphasis added).</span></span></p>
<p>Tentu, tidak sembarang proyek bisa diambil dosen. Jadi sebenarnya apa sih proyek itu buat seorang dosen?<br />a. Proyek = interaksi ilmu teori dan praktis antara dosen dan mereka yg bekerja di dunia industri.<br />b. Proyek = <em>network</em> dengan dunia industri<br />c. proyek = tugas institusi, menambah pendapatan untuk institusi<br />d. proyek tidak melupakan tugas dosen yg lain</p>
<p>silahkan tinggalkan pesan anda - <strong><span style="color: #ff00ff">bersambung &#8230;</span></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budih.blog.friendster.com/2007/08/ingin-menjadi-dosen-fakta-mitos/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Negeri di Awan</title>
		<link>http://budih.blog.friendster.com/2007/08/negeri-di-awan/</link>
		<comments>http://budih.blog.friendster.com/2007/08/negeri-di-awan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Aug 2007 17:19:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budih</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Poems &amp; Thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budih.blog.friendster.com/2007/08/negeri-di-awan/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #330099"><a href="http://budih.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/ki_mum_small_1.jpg"><img width="100" height="75" border="0" src="http://budih.blogs.friendster.com/budi_hartono/images/ki_mum_small_1.jpg" alt="Ki_mum_small_1" style="margin: 0px 5px 5px 0px;float: left" /></a></p>
<p><em></p>
<p>[dedicated to my most <a href="http://budih.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/ki_mum_small.jpg">beloved</a><br />
twin angels]</em><br /><a class="text"><br />Di bayang wajahmu<br />
Kutemukan kasih dan hidup<br />
Yang lama lelah aku cari<br />
Di masa lalu </p>
<p>Kau datang padaku<br />
Kau tawarkan hati nan lugu<br />
Selalu mencoba mengerti<br />
Hasrat dalam diri</p>
<p>Kau mainkan untukku<br />
Sebuah lagu tentang negri di awan<br /><strong><br />
Di mana kedamaian menjadi istananya</strong><br />
Dan kini tengah kau bawa<br />
Aku menuju ke sana</p>
<p>Ternyata hatimu<br />
Penuh dengan bahasa kasih<br />
Yang terungkapkan dengan pasti<br />
Dalam suka dan sedih</p>
<p></a></span></p>
<p><span style="color: #330099">(c) Katon Bagaskara ~ http://youtube.com/watch?v=lAUhV7FeTXI</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budih.blog.friendster.com/2007/08/negeri-di-awan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>TI UGM dalam statistik</title>
		<link>http://budih.blog.friendster.com/2007/08/ti-ugm-dalam-statistik/</link>
		<comments>http://budih.blog.friendster.com/2007/08/ti-ugm-dalam-statistik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Aug 2007 13:18:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budih</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Industrial &amp; Systems Engineering]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budih.blog.friendster.com/2007/08/ti-ugm-dalam-statistik/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut ini adalah gambaran statistik mahasiswa baru yang masuk melalui jalur UM 2007.<br /><span style="color: #009933">Sumber data: <a href="http://www.luk.staff.ugm.ac.id">Pak Djoko Luk</a><br />Pak Djoko menyatakan &quot;nilai rerata mahasiswa baru UGM tidak saya bedakan<br />
IPA &amp; IPC dlsb&quot;.</span></p>
<p>Mari kita telaah satu per satu untuk melihat &quot;positioning&quot; prodi TI UGM di level universitas.</p>
<p><strong>1. Rasio peminat terhadap mahasiswa yg diterima</strong><br /><a href="http://budih.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/peminatvsditerima.png"><img width="100" height="157" border="0" alt="Peminatvsditerima" src="http://budih.blogs.friendster.com/budi_hartono/images/peminatvsditerima.png" style="margin: 0px 5px 5px 0px;float: left" /></a>
</p>
<p>
<p>Pada data di atas, tidak dibedakan antara peminat pada pilihan#1, #2, dan #3.</p>
<p>Dari data di atas, terlihat bahwa pada level Fakultas Teknik, TI UGM adalah prodi dengan rasio paling tinggi. Artinya, di antara prodi di Teknik, mahasiswa TI UGM 2007 yg melaui jalur UM telah bertarung paling keras - karena tingkat <strong>kompetisinya tertinggi</strong> di FT. </p>
<p>Kita tidak bisa membandingkan rasio milik prodi di FT dengan prodi di Fakultas lain, seperti di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB). Jika anda bandingkan, rasio prodi FT jauh lebih rendah dari FEB - dan anda tidak bisa membandingkannya.<br />Mengapa?&nbsp; &nbsp;<br />Karena ada jalur IPA-IPS-IPC (lihat pernyataan pak Djoko di atas). <br />Seperti kita tahu, sebagian CaMa dari ilmu <u>eksakta</u> mengambil jalur IPC - sehingga akan menambah tinggi rasio prodi-prodi non eksakta. Sementara itu, CaMa dari ilmu non-eksakta sangat jarang mengambil jalur IPC. Karenanya, rasio dari prodi-prodi di ilmu eksakta - terutama FT tidak terdongkrak.</p>
<p>Karenanya, misal, rasio prodi TI <u>tidak bisa </u>dibandingkan dengan rasio di prodi manajemen.</p>
<p><strong>2. Nilai Rerata</strong><br />Jika informasi di poin 1 memiliki kemungkinan bias karena adanya jalur IPC, maka info tentang nilai rerata bisa dikatakan lebih akurat untuk merefleksikan tingkat persaingan antar CaMA.</p>
<p>Berikut adalah pernyataan dari Pak Djoko:<br />&quot;<span style="color: #33cc33">Saya tayang rasio nilai rerata <u>mhs yang diterima</u> tiap<br />
Prodi thd nilai rerata UGM. Nilai 1 berarti <u>mahasiswa yang diterima </u>pada prodi<br />
tersebut merupakan mahasiswa dengan kemampuan rerata di UGM. Nilai lebih besar 1<br />
berarti mahasiswa yang diterima pada prodi tersebut kemampuannya lebih baik<br />
dibandingkan kebanyakan mahasiswa UGM&quot;</p>
<p></span><span style="color: #000000">&nbsp;</span><br /><a href="http://budih.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/nilairerata.png"><img width="100" height="157" border="0" alt="Nilairerata" src="http://budih.blogs.friendster.com/budi_hartono/images/nilairerata.png" style="margin: 0px 5px 5px 0px;float: left" /></a>
</p>
<p>
<p>Dari data di atas terlihat bahwa nilai rerata mahasiswa TI UGM <strong>tertinggi</strong> di FT. Hal ini konsisten dengan analisis pada poin pertama di atas.<br />Dilihat pada skala universitas, nilai rerata mahasiswa TI UGM berada pada peringkat&nbsp; <strong>ketiga, </strong>di bawah pendidikan Kedokteran dan Ilmu Komputer. Rasio rerata mahasiswa 2007 TI adalah 1,38 yang artinya <em>on average,</em> skor mahasiswa TI 2007 adalah&nbsp; 1,38x skor rata-rata mahasiswa UGM 2007 secara keseluruhan.</p>
<p>Menurut saya, data poin dua ini leih valid digunakan sebagai proxy atau indikator persaingan CaMA karena analisis didasarkan pada <span style="color: #000000">nilai rasio CaMA yg benar-benar diterima di sebuah prodi, bukan hanya<br />
CaMa yang berminat (pilihan#1, 2, atau 3).</span></p>
<p>(c) boed</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budih.blog.friendster.com/2007/08/ti-ugm-dalam-statistik/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tidurlah TIdur Bidadariku</title>
		<link>http://budih.blog.friendster.com/2007/08/tidurlah-tidur-bidadariku/</link>
		<comments>http://budih.blog.friendster.com/2007/08/tidurlah-tidur-bidadariku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Aug 2007 07:14:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budih</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Poems &amp; Thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budih.blog.friendster.com/2007/08/tidurlah-tidur-bidadariku/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://budih.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/_ki_08.jpg"><img width="100" height="109" border="0" src="http://budih.blogs.friendster.com/budi_hartono/images/_ki_08.jpg" alt="_ki_08" style="margin: 0px 5px 5px 0px;float: left" /></a></p>
<p>[miss u my little angel]</em></p>
<p><span style="color: #cc00cc"><br />
Ohh&#8230;di kedalaman tidurmu<br />
<br />
Kau tersenyum lugu<br />
<br />
Hmm&#8230;mendekap damai dan tak berdosa</p>
<p>Ku..belai gelombang rambutmu<br />
<br />
Menitipkan kasih sayang<br />
<br />
Semoga berlimpah ruah bahagia<br />
<br />
Kita reguk bersama</p>
<p>Tidurlah tidur bidadari kecilku<br />
<br />
Setelah lelah kau bermain<br />
<br />
Mimpikan dirimu dalam istana<br />
<br />
Menari (lincah dan bernyanyi merdu) penuh suka</p>
<p>Dan kukecup lembut keningmu<br />
<br />
Rasa haru luluh jua<br />
<br />
Jangan dulu terjaga sampai pagi tiba<br />
<br />
Menjemput hari</p>
<p>Tidurlah tidur bintang kesayanganku<br />
<br />
Bersinar menerangi sukma<br />
<br /><strong><br />
Engkaulah juga yang jadi alasan<br />
<br />
Hingga kupacu semangat hidup menyimpan harapan</strong></p>
<p><strong></p>
<p>Kelak satu saat nanti kau beranjak dewasa<br />
<br />
Pilihlah jalan lurus nan murni tempatmu melangkah<br />
</strong><br />
Menuju cita mengenggam asa<br />
<br />
Kau tentukan warna tuk hidupmu<br />
<br />
Sejak dari mula lebih baik kau jaga langkah<br />
<br />
Berbekal waspada</span></p>
<p>(c) <strong>By Katon Bagaskara</strong></p>
<p>http://youtube.com/watch?v=1-Zg64vXW4g<strong></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budih.blog.friendster.com/2007/08/tidurlah-tidur-bidadariku/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>The Young Engineer&#8217;s Dilemma</title>
		<link>http://budih.blog.friendster.com/2007/08/the-young-engineers-dilemma/</link>
		<comments>http://budih.blog.friendster.com/2007/08/the-young-engineers-dilemma/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2007 15:20:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budih</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Industrial &amp; Systems Engineering]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budih.blog.friendster.com/2007/08/the-young-engineers-dilemma/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> B<span style="color: #0066cc">ayangkan seandainya anda pada posisi ini, <strong><u>what &#8216;r u gonna do</u></strong>? Kasus ini pernah menjadi &#8216;<em>hot topic dan hot debate</em>&#8216; di salah satu sesi diskusi di perkuliahan manajemen proyek di Teknik Industri / Teknik Mesin - UGM yang kebetulan saya ampu.</span></p>
<p>&#8212;-<br />Anda adalah seorang project manager, bekerja pada sebuah perusahaan konstruksi. Anda faham betul bahwa hidup mati dari sebuah perusahaan konstruksi tergantung dari proyek. Perusahaan hidup dari satu proyek ke proyek yang lain. <em>No project no cash inflow.</em></p>
<p>Suatu saat perusahaan anda sedang berada dalam kondisi krisis. Sekian lama sudah tak mendapatkan proyek yang signifikan - cash flow perusahaan terganggu. Nasib 250 karyawan di perusahaan anda di ujung tanduk. [n.b. berarti 250x4 = 1000 orang bernasib tak jelas ]. Tanpa proyek baru, kemungkinan terjadi l<em>ay-off </em>besar-besaran.</p>
<p>Kebetulan anda sebagai seorang <em>project manager</em> sedang menangani proposal&nbsp; proyek besar. Jika anda berhasil mendapatkan kontrak, at least untuk 5 tahun ke depan cash flow perusahaan anda aman. No PHK.</p>
<p>Pagi itu, hp anda berdering. Ternyata calon klien anda menelpun. Setelah basa-basi ke sana kemari, sang calon klien bicara:</p>
<p>&quot;<em>Let me put it this way.Loud &amp; clear. I know your company badly needs this project. That&#8217;s why&nbsp; I will&nbsp; give the project to you -not to the competitors. I consider and respect our long-term relationships so far. </p>
<p>All&nbsp; I&nbsp; need&nbsp; is&nbsp; a 5% kick-back from your project. Off course, it won&#8217;t be formally recorded on the contract. If u agree, I&#8217;ll sign the contract right now. You give me&nbsp; the&nbsp; 5%&nbsp; by next month. Direct transfer to my bank account in Cayman Island. Or else - I&#8217;ll find another company which will be more than happy to give me 7%&quot;</em></p>
<p><span style="font-size: 1.2em"><strong>So what r u gonna do?</strong></span><br />a. terima kontrak, selamatkan 1000 orang tapi menentang hati nurani<br />b. tak terima kontrak, proyek jatuh ke kompetitor, perusahaan bangkrut - 1000 orang tak jelas nasibnya?<br />c. or ???</p>
<p>&#8211;boed</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budih.blog.friendster.com/2007/08/the-young-engineers-dilemma/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>